Tampilkan postingan dengan label BAI'AT DAN IMAMAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BAI'AT DAN IMAMAH. Tampilkan semua postingan

SEREMONY PEMBAI'ATAN MALIK ABDUL AZIZ BIN ABDIRROHMAN ALFAISHAL AALU SU'UD

Kamis, 23 April 2015

Pada hari jumat 23 jumadil ats-tsaniyah 1344 H / 8 januari 1926, manusia berkumpul di sekitar pintu shofa baik di dalam dan diluar masjidil haram, saat itu telah disediakan sebuah tempat khusus untuk pembacaan naskah bai'at. Dan SETELAH SHOLAT JUMAT, datanglah ibnu su'ud pada tempat tersebut. Kemudian FADHILAH SYAIKH ABDUL MALIK BIN MIRDAD menyampaikan sebuah kalimat kepada masa yang penuh sesak, acara tersebut dihadiri oleh para tokoh2 masyarakat , para pejabat2, dewan kota, para masyayikh, termasuk pula MASYAYIKH DARI TANAH JAWA, ahli madinah , ahli Jeddah dll
Setelah beliau membacakan khutbah pembukaan lantas beliau mulai membacakan kalimat bai'at:

"""KAMI MEMBAI'AT PADAMU WAHAI YANG MULIA SULTHAN ABDUL AZIZ BIN ABDIRROHMAN ALFAISHAL AALU SU'UD UNTUK MENJADI RAJA ATAS WILAYAH HIJAZ DIATAS KITABILLAH WASSUNNAH ROSULILLAH SHALLALLAHU 'ALAIHI WASALLAM, DAN DIATAS APA-APA YANG DITETAPI OLEH PARA SAHABAT RIDHWANALLAHU 'ALAIHIM , SALAFUSSHOLIH DAN PARA IMAM EMPAT RAHIMAHUMULLAH"""

Pada saat FADHILAH SYAIKH ABDUL MALIK BIN MIRDAD membacakan kalimat baiat ini maka DIDENTUMKANLAH 100 MERIAM DAN TEMBAKAN SENAPAN sebagai pengumuman kepada masyarakat luas bahwa saat itu sedang terjadi pembaiatan
dan setelah syaikh menyelesaikan bacaan kalimat baiat ini dan yang muliya raja abdula aziz menerimanya, maka majulah para hadirin baik perorangan atau berkelompok dari penjuru kerajaan kepada malik abdul aziz dan memberikan baiatnya sebagai raja dan berjanji untuk mendengar dan taat.

SERELAH ITU MALIK ABDUL AZIZ BERPIDATO…………setelah menyampaikan kalimat pembukaan……….
Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertaqwa kepada Allah dalam semua amalan kalian, aku wasiatkan kepada semuanya untuk bertaqwa, setiap orang haruslah bertaqwa kepada Allah di dalam amalannya, pedagang (bertaqwa) dalam dagangannya, produsen di dalam produksinya, pegawai di dalam kepegawaiannya, aku mendengar ahli pidato kalian berkata : "inilah imam yang adil, begini dan negitu", setiap orang bilamana dia telah mencapai pada kedudukan yang tinggi namun dia tidak takut kepada Allah dan tidak mencari keridhoannya, maka tidak berbekas pada dirinya dan amalannya. 
Dan kapan syahwat dan keharaman-keharaman telah ditinggalkan, dan sesembahan kita Allah maha Mengawasi, maka kita akan mendapatkan semua kebaikan, dan tidaklah bala' itu datang kepada manusia kecuali orang itu mengikuti hawa nafsu diri yang menyebabkan kerusakan agama dan dunia

Oleh karenya, aku mengajak kalian menuju agama ini, DAN MENGIKUTI ATSAR SALAFUSSHOLIH, dan kami akan mengambil pada ucapan yang jelas, dan kami meninggalkan cerita/ucapan yang mengandung riya' dan yang mencari muka.dan bila mana umara' dan ulama sudah kongkalikong dan saling menutupi, amir memberikan kedudukan sementara ulama curang dan mencari muka, maka hilanglah urusan manusia, dan habislah kita – wal 'iyadzu billah- di dunia dan di akhirat, karena yang akan merusak sebuah kerajaan itu adalah para raja, anak cucunya, para pegawai-pegawai mereka, para ulama', dan pembantu-pembantu mereka sendiri, dan aku akan menjadi bengkok bila aku tidak berada pada posisi ini ( bersikap adil) , bahwa tidak ada daya upaya dan kukuatan kecuali dengan Allah


Sumber bacaan :
- majalah almanar mesir, bulan sya'ban 1344 H/ februari 1926 M menukil berita dari - koran ummul quro edisi ke 55 , 30 jumadi at-tsaniyah 1344 H/ 15 januari 1926 M
- Isholatu al-manhaj fii siroti al-malik abdil aziz oleh ustadz doktor abdul robbi bin nuwabibddin, terbitan jami'ah islam madinah

Sanggahan Terhadap Perkataan: “YANG PENTING ADA IMAMNYA”

Minggu, 01 Juni 2014

Seringkali kita dengar perkataan: “dalam masalah agama, yg penting kita punya imam dalam pendapat ini, sehingga di akhirat nanti, apabila pendapat ini salah, maka imam itulah yg akan menanggung salahnya, sehingga dengan begitu kita akan aman“.
Orang seperti ini, hakikatnya hanya ingin enaknya saja. Soal pahala ia ingin dapat juga. Adapun soal dosa, ia lempar kepada orang lain, padahal Allah Ta’ala telah berfirman:

وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى

“Orang yg berdosa tidak akan memikul dosa orang lain” (QS. Al Faathir: 18)

إِذْ تَبَرَّأَ الَّذِينَ اتُّبِعُوا مِنَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا وَرَأَوُا الْعَذَابَ وَتَقَطَّعَتْ بِهِمُ الْأَسْبَابُ (166) وَقَالَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا لَوْ أَنَّ لَنَا كَرَّةً فَنَتَبَرَّأَ مِنْهُمْ كَمَا تَبَرَّءُوا مِنَّا كَذَلِكَ يُرِيهِمُ اللَّهُ أَعْمَالَهُمْ حَسَرَاتٍ عَلَيْهِمْ

“Ketika para PEMIMPIN yg diikuti itu BERLEPAS DIRI dari para PENGIKUTNYA, (ketika) mereka melihat siksa, dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali, berkatalah para pengikut itu: “Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan BERLEPAS DIRI dari mereka, sebagaimana BERLEPAS DIRI dari kami. Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi SESALAN bagi mereka” (QS. Al Baqarah: 166-167).

Allah Ta’ala juga berfirman:

حَتَّى إِذَا ادَّارَكُوا فِيهَا جَمِيعًا قَالَتْ أُخْرَاهُمْ لِأُولَاهُمْ رَبَّنَا هَؤُلَاءِ أَضَلُّونَا فَآتِهِمْ عَذَابًا ضِعْفًا مِنَ النَّارِ قَالَ لِكُلٍّ ضِعْفٌ وَلَكِنْ لَا تَعْلَمُونَ
“Sehingga apabila mereka masuk (ke neraka) semuanya, berkatalah mereka yg masuk belakangan kepada mereka yg masuk lebih dulu: “Ya Tuhan kami, mereka telah menyesatkan kami, sebab itu datangkanlah kepada mereka siksaan yg berlipat ganda dari neraka”. Allah menjawab: “MASING-MASING akan mendapat SIKSAAN yg berlipat ganda, namun kalian tidak mengetahui”. (QS Al A’raf: 38).

Dan masih banyak lagi ayat senada dengan hal ini, yang intinya kitalah nanti yang akan mempertanggung jawabkan amalan kita sendiri, bukan orang lain. Maka hendaklah kita berhati-hati, dan ikutlah dalil kemana pun ia menuntunmu!

Semoga Allah menunjuki kita jalan yang lurus, dan memberikan taufiq-Nya kepada kita semua untuk meraih ridha dan firdausNya… amin.

Penulis: Ustadz Musyaffa Ad Darini, Lc., MA.

JANGAN IKUTI BAI’AT DAN JAMA’AH YANG SEMBUNYI-SEMBUNYI

Sabtu, 24 Mei 2014

Sabda rasulullah Sallallahu 'alaihi wasallam :
إِذَا بُويِعَ لِخَلِيفَتَيْنِ، فَاقْتُلُوا الْآخَرَ مِنْهُمَا
Bila dibai’at dua orang khalihaf maka bunuhnlah yang terakhir dari keduanya HR.Muslim

Dan benarlah perkataan Umar bin khattab radhiallahu ‘anhu:

مَنْ بَايَعَ رَجُلًا عَنْ غَيْرِ مَشُورَةٍ مِنَ المُسْلِمِينَ فَلاَ يُبَايَعُ هُوَ وَلاَ الَّذِي بَايَعَهُ، تَغِرَّةً أَنْ يُقْتَلاَ

Barang siapa yang membai’at kepada seorang lelaki tanpa bermusyawarah dengan kaum muslimin, maka dia jangan diikuti demikian pula pada orang orang yang membaiatnya, karena di khawatirkan keduanya akan dibunuh ( HR. Bukhori)

TEROR DI  MASJIDIL HARAM 1979


Dan diantara peristiwa yang terjadi di tahun 1979 DI MASJIDIL HARAM MAKKAH adalah apa yang telah dilakukan oleh JUHAIMAN BIN MUHAMMAD AL’UTAIBY dan para jama’ahnya

Dia lahir pada 16 september 1936, dan merupakan anggota pasukan garda nasional kerajaan Saudi Arabia selama 18 tahun , pernah sekolah di ummul quro jurusan filsafat agama, kemudian pindah ke univ. islam madinah disinilah dia bertemu dengan Muhammad bin abdillah salah seorang murid dari syaikh bin baz rahimahullah, lantas kemudian dia menikah dengan adik Muhammad bin abdillah

Singkat cerita>>>>>>>>>>

Pada  20 November 1979. Juhaiman dan jama’ahnya memasuki Masjid haram  Makkah untuk melakukan shalat subuh, dengan menggotong usungan jenazah yang akan disholatkan setelah sholat subuh, setelah sholat subuh maka juhaiman dan kakak iparnya maju kedepan para ja,a’ah sholat dan menceritakan tentang imam Mahdi al-muntadzor dan siapa saja yang lari darinya adalah termasuk MUSUH ALLAH lantas dia memajukan kakak iparnya (mahammad bin abdilla) seraya mengumumkan bahwa dialah imam almuntadhar dan mujaddid agama diawal abad ini.

Kemudian juhaiman dan para pengikutnya MEMBAI’AT “ALHMAHDI ALMUNTADHOR” yakni Muhammad bin abdillah al-qahthani, dan dia menuntuk pada semua jama’ah sholat untuk membaiat kakak iparnya itu, dan dia menutup pintu – pintu masjidil haram sehingga orang-orang tidak bias keluar, para saksi mata saat itu menyaksikan bahwa mereka ini (pengikut juhaiman) adalah para penembak jitu yang berada di tangga-tangga masjid , mereka membidik tentara Saudi Arabia dari atas menara masjid , mengpullah asap dikota makkah yang berasal dari masjidil haram, dan berkobar api dari dalam masjid, peristiwa ini berjalan sampai dengan TIGA HARI

Setelah itu dia melepaskan wanita dan anak-anak  dan menyisakan tawanan di dalam masjid, dan diceritakan bahwa pasukan penolong menggunakan air dan listrik untuk melumpuhkan gerakan mereka,  dan setelah itu diikuti dengan masuknya pasukan kedalam masjidil haram untuk mengamankan masjid dan akibatnya banyak yang maninggal pada saat itu termasuk Muhammad bin abdillah al qahthany
Pembebasan masjidil haram

Pasukan pertama yang masuk ke masjidil haram adalah pasukan keamanan internal namun gagal dimana sebanyak 60 pasukan gugur , kemudian datang bantuan dari pasukan garda nasional masuk dengan menggunakan kendaraan lapis baja, senapan mesin dan gas beracun, pasukan juhaiman semakin melemah dan lari ke menara dan di atap masjid sebagian lagi bersembunyi di sumur zam-zam, maka berakhirlah pasukan juhaiman.

Dalam berita dari pihak yang berwenang masjidil haram;  kejadian ini mengakibatkan terhalanginya kaum muslimin sholat di masjidil haram selama 15 hari

Akhir kisah, maka mahkamah menjatuhkan hukuman pancung kepada 61 orang termasuk juhaiman

Kisah lengkapnya silahkan baca di:

wikipedia
assakina

SULTHANAH RADHIAH SANG RATU INDIA

Jumat, 23 Mei 2014

PENGUASA WANITA MUSLIMAH PERTAMA DI ASIA SELATAN

Quthbuddin Aibak menaklukan india pada tahun 584 H . Ia berasal dari kalangan budak yang bodoh; yang lalu dibeli oleh Qodhi Fakhruddin AI-Kufi. Qodhi inilah yang membina dan mendidiknya dalam ilmu dan ketakwaan. Lalu ia dibeli oleh Sultan Syihabuddin AI-Ghuri. Sultan inipun menggemblengnya menempa keberanian dan teknik-teknik berperang.

Memang Qutbuddin Aibak seorang yang punya tekad yang tinggi dan seorang yang jenius. Hingga akhirnya iapun menjadi raja, setelah sebelumnya ia hanyalah seorang budak.

Qutbuddin sendiri punya seorang budak yang cukup cerdas, ada yang menamakannya lilmusy, atau ada yang menyebutkan lltumusy. Qutbuddin pun menggembleng dan mendidiknya di atas dasar-dasar kebaikan dan kriteria-kriteria kesatria.

Tatkala Qutbuddin akan meninggal, lltumusy pun menghimpun para qodhi, mufti serta kaum terpandang dan berkedudukan. Lapun memproklamirkan dirinya sebagai raja. lni hal yang cukup membuat hadirin menjaditerhenyak. Termasuk qodhi yang saat itu hendak unjuk kata kepada Quthbuddin, namun Iltumusy paham akan hal yang mengganjal hati sang qodhi dan juga lainnya. Sebelum sang qodhi angkat suara, Quthbuddin menyelanya sambil tersenyum dan mengeluarkan surat yang sudah distempel dengan stempel kerajaan. Ia menyerahkannya kepada sang qodhi agaria membacakannya kepada para hadirin yang menyaksikanan. Temyata itu adalah surat pembebasannya
dari belenggu perbudakan. Ia telah dimerdekakan. Sehingga dengan begitu, iapun dibai'at untuk menjadi penguasa.

Ia memimpin dengan meneladani perjalanan hidup Quthbuddin. Ia orang yang cinta akan keadilan, selalu menegakkan kebenaran. Dan ia memprakarsai untuk membuat suatu kebijakan untuk mengawal programnya dalam meminimalisir kezholiman. Yaitu bahwa pakaian umumnya orang-orang India adalah pakaian india berwarna putih. Maka sultan baru ini"menjadikan pakaian berwarna sebagai pertanda bagi rang yang mengadukan kezaliman yang ia derita. Kalau ada yang menzholiminya, ia bisa mengenakan pakaian berwarna dan menghadang sang sultan di manapun ia tengah berada, sehingga sang sultan akan memberikan keadilan baginya atas orang yang menzholiminya.

Kemudian sultan merasa khawatir kalau ia tidak melihat orang yang terzholimi.lapun memasang lonceng di pintu istana, di mana orang yang hendak mengadukan kezholiman yang ia terima bisa membunyikannya pada waktu apapun, baik siang maupun malam hari.

Ia seorang ahli perang yang handal hingga menorehkan kemenangan-kemenangan, Ia juga seorang. ahli tata negara yang penuh bijak, sekaligus seorang politikus ulung dan hakim yang adil. Akan tetapi anak-anaknya tidak seperti ayahnya. Mereka telah terkontaminasi oleh kenikmatan dunia dan kekuasaan, sehingga mereka pun lebih condong untuk memperturutkan kelezatan dan keinginan nafsu mereka. Sang ayah telah mengerahkan segala upaya untuk memperbaiki kondisi mereka, hingga ia pun pesimis dengan keadaan mereka.

Namun ia tak habis harapan. Ia punya seorang putri, di mana Alloh menganugerahkan fisik yang sempurna dan sekaligus mempunyai cara pikir yang cemerlang dan kemampuan untuk memecahkan masalah-masalah pelik di samping juga mempunyai keberanian. Lapun tak canggung untuk mengarungi hal-hal yang cukup membahayakan.

Melihat putrinya yang punya banyak potensi positif ini, iapun mengalihkan perhatiannya kepada sang putri. Ia taruh pengharapannya kepada putrinya. Ia datangkan para ahli didik dan ahli ajar. Ia juga mengajarkan kepadanya seni dan teknik berperang, teknik pergulatan dalam berpolitik, dan melatihnya berperang. Bila sang ayah tidak berada di tempat, iapun rnempercayakan urusan dan kekuasaan kepada putrinya. Dan sang putri pun bisa menggantikan tugas yang ditinggalkan ayahnya, dan mungkin saja lebih darinya.

Tatkala sang ayah mangkat, putra sulungnya memegang tampuk
kekuasaan; yaitu Ruknuddin Fairuz Syah. Namun ia berlaku lalim. Ia coreng reputasi ayahnya. Bahkan iapun membunuh saudaranya Mu'izzuddin. Dan hati rakyat pun dijejali dengan kebencian dan ketakutan kepadanya, hingga mereka berangan-angan lengsernya kekuasaannya. Dan ketika itulah, sang putri yang dikenal dengan nama Radhiyyah, mulai melancarkan agendanya.

Sang putri terlihat di atas loteng rumahnya, dan orang-orang pun melihatnya. Ia mengenakan syiar kaum terzalimi di masa ayahnya. Ia mengenakan pakaian berwarna. Orang-orang pun berkumpul padanya. lapun menyeru mereka untuk menopangnya, dan merekapun menyambut seruannya. Ia memimpin revolusi bersama mereka, hingga ia berhasil mengalahkan saudaranya, dan menjatuhkan hukuman kepada saudaranya. lapun memegang tampuk kesultanan, dan itu terjadi pada Rabiul Awal 604 H.

Dan itu adalah sesuatu yang tidak lazim diadakan dalam islam.

Catatan: Rosul sendiri memberikan pengajaran umat ini dengan sabdanya:

لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمُ امْرَأَةً
"Tidak akan beruntung suatu kaum yang menyerahkan kendali urusan
mereka kepada seorang perempuan.(HR. Bukhori)

Maka menjauhi perkara yang mendatangkan ketidak beruntungan adalah wajib.

lmam Shon'ani berkata:
"Hadits ini memberitakan tentang tidak beruntungnya kaum yang mempercayakan kendali urusan kepemimpinan mereka kepada seorang perempuan. Dan mereka dilarang untuk mendatangkan ketidak beruntungan bagi diri mereka sendiri; sekaligus diperintahkan untuk mengupayakan hal yang menjadi sebab keberuntungan mereka".

Imam Baghawi berkata:
"Mereka sepakat bahwa perempuan tidak pantas untuk menjadi imam (penguasa) dan tidak pula qodhi. Karena penguasa perlu untuk keluar untuk menegakkan perintah jihad dan mengurusi urusan kaum muslimin. Dan qodhi perlu untuk tampil untuk memutuskan perkara-perkara yang disengketakan. Sedangkan perempuan adalah aurat tidak pantas untuk tampil. kelemahannya ketika menjalankan berbagai banyak urusan. Dan juga bahwa perempuan itu kurang, sedangkan kepemimpinan dan qadha (peradilan) termasuk area kekuasaan yang sempurna. Maka tidak pantas untuk mengembannya selain orang sempurna dari kalangan lelaki".

Imam Syaukani, juga mengatakan: "Hadits inl menjadi dalil bahwa perempuan bukanlah termasuk yang berhak menjabat kepemimpinan, dan tidak boleh suatu kaum menjadikannya menjadi pemimpin. Juga berkata: "Bahwa qodho' (begitu pula imamah) memerlukan kesempurnaan pikiran, sedangkan pemikiran perempuan kurang; terlebih lagi di tempat-tempat perkumpulan kaum lelaki".

Ia pun didaulat menjadi raja, atau tepatnya ratu. Ia menjadi sultan,atau disebut sultanah, karena ia seorang wanita. Seiring dengan itu, iapun mengesampingkan unsur feminimnya. Ia tanggalkan kewanitaannya. Ia rnengenakan pakaian lelaki. Ia tampil di hadapan orang-orang dan menampakkan sebagai sosok yang tegas dan keras. Dengan upayanya merubah kepribadiannya, ia menyangka bisa merubah ciptaan Alloh yang Dia patrikan dalam dirinya sebagai wanita.

Padahal Rosululloh Sallallahu 'alaihi wasallam  telah memberikan peringatan kepada umat ini:

لَعَنَ اللهُ الْمُتَشَبِّهِينَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ، وَلَعَنَ الْمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ
"Alloh melaknat kaum perempuan yang meniru-niru dengan kaum lelaki; dan melaknat kaum yang meniru-niru kaum perempuan dari kalangan lelaki." (HR. Thobroni)

lapun mengendalikan semua urusan di genggaman tangannya. Ia kembalikan corak hidup ayahnya dalam keadilannya dan keberaniannya. Ia selesaikan semua permasalahan sendiri, ia mengatur dan memimpin rakyatnya; dan iapun menerjunkan diri dalam laga peperangan. Dan demikianlah, diawal masanya, ia menjalankan roda negeri mengikuti corak ayahnya, menebar keadilan, menghilangkan kezaliman, membuka negeri-negeri, dan melabuhkan bahtera aman di penjuru kerajaannya. Sampai-sampai ahli sejarah menyatakan bahwa masa pemerintahannya adalah masa keemasan yang pernah dikenal negerinya.

Namun bagaimanapun, tetap saja seorang wanita yang memerintah negeri menjadi buah bibir semua orang. Dan tentu tidak rela kalau mereka harus tunduk di bawah kendali seorang wanita. Mulailah kasak- kusuk merebak di penjuru, menja!ar pada upaya konspirasi untuk menggulingkannya dari tahta Dan yang memprakarsai persekongkolan ini menteri kerajaan Nizhomul Mulk, dan para pucuk pimpinan panglima, bangsawan dan kesatria. Mereka bersepakat untuk melengserkan Sultanah dan menobatkan adiknya;Nashiruddin Bahram untuk memegang kendali negeri.

Dan tiba-tiba sang sultanah pun tertahan di telah dikepung oleh musuh-musuhnya. Namun ia tak tinggal diam. Ia bangkitkan para pendukungnya dan ia meminta kepada penguasasalah satu wilayah (wilayah Oda) untuk menolongnya. Dan sang pengusa wilayah ini pun tanpa ragu mengirimkan pasukan dan ia sendiri yang secara langsung memimpinnya.

Dan terjadilah pertempuran sengit antara penguasa wilayah ini dengan pasukan koalisi yang hendak menumbangkan sultanah. Hingga pasukan koalisi ini pun berhasil mengalahkan pasukan musuh, dan sang penguasa wilayah ini pun tertawan hingga mehemui kematiannya.

Mendengar berita kematian Sultanah pun tidak menyerah begitu Ia pun menggunakan senjatanya yang  membuat musuh bertekuk lutut. Ia gunakan senjata kecantikan dan pesonanya hingga mampu menikam hati para musuhnya. Hingga akhirnya antara mereka sendiri saling menikam, meminta pertolongan kepada sebagian mereka untuk menghancurkan sebagian lainnya. Hingga ketika hanya tersisa sedikit dari musuhnya, iapun menumpas mereka sekaligus dengan kecerdikan dan kekuatannya. Namun ia tetap membiarkan saudara lelakinya Nashiruddin Bahram untuk tetap hidup.

Dan qengan demikian, kembalilah sang sultanah menduduki tahta kesultanannya. Hingga terjadilah kejadian yang menjadi pertanda kehancurannya. Suatu hal yang membuat kekuasaannya terampas, hingga terjadi hal-hal yang tidak ia duga sarna sekali. Sultanah, yang tetap saja sebagai seorang wanita, masih juga belum mendapatkan pendamping hidup.

Hanya saja ia punya seorang budak yang bernama Yaqut. Sultanah begitu percaya kepadanya, hingga iapun mengangkatnya menjadi panglima pasukan maka tersebarlah berbagai issu yang merebak dikarenakan hal tersebut. Tersebar issu saking percayanya Sultanah kepada Yaqut, sampai-sampai si budak inilah yang membantu sang Sultanah untuk menaikkannya kepunggung kuda dan juga turun dari punggung kudanya. Dan inipun menghembuskan pergolakkan di negerinya. Hingga penguasa Bathinda memberangkatkan pasukan ke Delhi untuk menumbangkan Sultanah dari tahtanya. Dan sang Sultanah pun tidak gentar. lapun begitu yakin bisa menorehkan kemenangan. Namun pasukannya sendiri yang juga merasa geram dengan issu yang merebak tersebut; merekapun berbalik menyerang sang Sultanah.
Mereka tidak lagi memandangnya sebagai Sultanah, namun telah menjelma sebagai wanita yang keji. Hingga akhirnya penguasa Bathinda berhasil menawan Sultanah. Dan tahta Delhi pun digantikan oleh saudaranya Nashiruddin Bahram.

Saat itu kembalilah Radhiyyah menjadi sosok asalnya sebagai wanita. Dan sang penguasa Bathinda pun menikahinya. Hingga akhirnya dengan kecerdikan Sang Sultanah, iapun berhasil merayu suaminya untuk merebut kembali tahta Dehli agar kembali ke pangkuannya. Dan memberangkatkan pasukannya untuk merebut Delhi. Singkat cerita, pasukan Sultanah beserta suaminya dihadang dan menderita kekalahan. Mereka tidak berhasil merebut kembali kekuasaan sang Sultanah. Namun, meski kalah dalam berperang, namun orang-orang tidak tahu di mana rimba Sang Sultanah. Ternyata ia menghilang menjauh dari medan laga. Hingga membuatnya letih dan kelaparan.
Kala terlihat ada seorang petani di ladangnya, iapun meminta sedikit jamuan untuk mengganjal perutnya. lapun dijamu sepotong roti hingga kemudian saking lelahnya, ia tertidur pulas. Ia tidak tahu bahwa itulah tidurnya yang terakhir kali. Saat itu ia mengenakan pakaian perang layaknya seorang prajurit pria. Saat Sultanah tertidur itulah, sang petani tahu bahwa sebenarnya ia adalah seorang wanita. Sang petani pun kemudian berusaha mengambil perhiasan yang menghiasai pakaiannya yang tertutupi baju perangnya dengan membunuh sang Sultanah. Dan berakhirlah haru-biru perjalanan Sultanah Radhiah. Yang tentunya menyimpan pelajaran dan hikmah yang sungguh berharga.

Dlambil dari Rijalun Minat Tarikh.



http://www.alarabimag.com/Article.asp?ART=7292&ID=97

Baiat Aqabah yang pertama dan ke dua terjadi sebelum tegaknya negara Islam.

Rabu, 23 Oktober 2013

Jawaban dari beberapa segi.

1.   Kami katakan : "Ini adalah perbuatan yang tidak etis terhadap Rasulullah Shallallahu 'alihi wa sallam. Tidak sepantasnya diucapkan teradap Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, bahwa beliau mengajak baiat sesudah atau sebelum tegaknya daulah. Karena ini adalah kebenaran yang diberikan dan dikhususkan kepada beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam, dan dikhususkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dan sungguh Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam membaiat sahabat-sahabatnya untuk tidak melarikan diri dari peperangan dan kadang memba'iat mereka untuk mati dan untuk berjihad sebagaimana membaiat mereka atas Islam. Dan beliau-pun membaiat mereka untuk hijrah sebelum fathu Mekkah, membaiat mereka untuk bertauhid, komitmen dalam mentaati Allah dan Rasul-Nya. Dan beliaupun pernah memba'iat sekelompok dari para sahabat ridhwanullah 'alaihim ajma'in untuk tidak minta-minta sesuatupun terhadap manusia[[1]]. Maka tidak sepantasnya bagi seorangpun dari manusia -bagaimanapun sesatnya orang tersebut- untuk mengkiaskan semua ini untuk dirinya saja, sebagaimana sudah jelas dan gamblang

2.   Bahwa baiat tersebut diberikan kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Sedang beliau adalah orang yang  dipersiapkan oleh Rabb semesta alam untuk menjadi amir bagi orang-orang mukmin. Dan tidak seorangpun setelah tegaknya daulah diberi bai'at secara umum selain beliau, sampai beliau menemui Tuhannya. Maka jadilah beliau amirul mukminin dan melaksanakan hukum had dan hukuman-hukuman lainnya. Kalau begitu siapakah di jaman sekarang ini orang yang seperti beliau di dalam persiapan Allah Subhanahu wa Ta'ala ?

3.   Bahwa baiat yang pertama, adalah baiat untuk beriman kepada Allah saja, berpegang teguh dengan amalan-amalan yang utama dan mejauhi amalan-amalan yang mungkar[[2]]. Dan engkau tidak mendapatkan pada panji-panji pembaitan ini suatu panji yang berkaitan dengan jihad[[3]] atau yang menyerupainya. Dari sini dapat diambil pelajaran bahwa baiat ini tidak diberikan kepada seorangpun (sebagaimana telah dijelaskan dengan rinci), tetapi hanya diberikan kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, yang telah dipersiapkan untuk menjadi imam dan pemimpin bagi kaum mukminin.

4.   Sebagai penguat jawaban yang telah lewat, bahwa baiat Aqabah yang kedua merupakan kebulatan tekad untuk berhijrah dan pengukuhan pendirian Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam kepada orang-orang Anshar serta kesanggupan mereka untuk memberikan kedamaian dengan suasana yang cerah di Madinah[[4]]. Baiat tersebut juga merupakan janji militer saja. Tidak dibahas di tengah-tengah perundingan tersebut suatu masalah kecuali tentang kesanggupan tempat perlindungan ke Madinah. Serta untuk memerangi musuh-musuh beliau dan musuh agamanya. Maka baiat Aqabah lebih dari sekedar perjanjian untuk membela dari serangan. Sesungguhnya baiat tersebut adalah merupakan janji militer[[5]]

Bait Aqabah yang kedua ini merupakan suatu landasan pijak bagi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk hijrah ke Madinah. Oleh karena itulah baiat tersebut mencakup dasar-dasar yang sempurna pensyariaatannya setelah hijrah, dan yang paling utama adalah jihad dan membela dakwah dengan kekuatan. Dan baiat Aqabah ini telah menjadi salah satu hukum -walaupun Allah belum memberitahukan kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa hal itu akan disyariatkan di masa yang akan datang [[6]]

Maka berdalih dengan ke dua baiat tersebut atas baiat-baiat istitsnaiyyah seperti ini adalah alasan yang batil, sebagaimana tidak samar lagi setelah penjelasan ini.

Oleh karena itu tidak boleh dikatakan bahwa baiat itu terjadi sebelum adanya daulah! Akan tetapi baiat itu adalah kunci pertama dan pendahuluan yang pokok untuk tegaknya daulah!





[1] Zaad al-Ma'ad (3/95), Ibnu Qayyim, cet.ar-Risalah
[2] Fiqh al-Shirah, hal.154, Muhammad al-Ghazali
[3] Fiqh al-Shirah, hal.128, Muhammad Sa'id Ramadhan al-Buthi
[4] Nizham al-Hukmi fi al-Syari'ah wa al-Tarikh (I/254), Zhafir al-Qasim
[5] Idem, dan lihat nash baiat di dalam Musnad Imam Ahmad (3/322, 323-339), Mustadzrak (2/624-625), Al-Bidayah wa al-Nihayah (3/159-160), agar anda tahu batilnya kiyas tersebutز
[6] Fiqh al-Sirah, hal.132, al-Buthi

TIDAK ADA DALIL YANG MELARANG BAI'AT

Kita jawab dari beberapa sisi.

1. Sesungguhnya semua pembicaraan orang-orang terdahulu dari kalangan ahli ilmu dan fikih berkisar pada baiat kepada seorang khalifah muslim. Tidak seorangpun dari mereka berpendapat kepada baiat-baiat istitsnaiyyah yang diberikan kepada bukan pemimpin kaum muslimin! BARANGSIAPA YANG BERPENDAPAT SELAIN INI, MAKA WAJIB BAGINYA UNTUK MENUNJUKKAN DALIL!

2. Jika dikatakan bolehnya baiat semacam ini (baiat-baiat individu) ,
maka

a) apakah baiat itu khusus untuk golongan tertentu dari manusia ? (misalnya baiat ini hanya milik nurhasan dan anak turunnya saja)

Jika dijawab "ya", 
maka yang demikian berarti batil, DAN MEMBUAT-BUAT SYARI'AT YANG TIDAK DIIZINKAN OLEH ALLAH SUBHANAHU WA TA'ALA. Karena tidak ada wahyu yang mengkhususkan sekelompok manusia dengan suatu perkara, tanpa memberikan kepada kelompok yang lain setelah wafatnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam!

b. bai’at boleh untuk seluruh golongan umat dan individu-individunya ? 

Dan jika dijawab "ya", berarti engkau telah memporak porandakan urusan kaum muslimin, mencerai beraikan urusan mereka, dan memecah belah kedigdayaan mereka, serta menjadikan mereka berkelompok-kelompok dan bergolongan-golongan. DARI SANA, MAKA TERBUKA PINTU YANG TIDAK BISA DITUTUP BAGI BERIBU-RIBU BA'IAT, sehingga seorang mendatangi orang yang ia kehendaki kemudian membaiatnya kapan saja yang ia mau. INI ADALAH SEBATIL-BATILNYA PERKARA!

3. DIMANA PENDAHULU UMAT INI DARI BAIAT-BAIAT SEMACAM INI ? Apakah akal dan hawa nafsu kita bisa sampai kepada suatu kebaikan sedang kita lepas dari orang-orang terbaik dari umat ini dari kalangan salaf dan para imam Ridhwanullah 'alaihim ajma'in ? 

Maka

benarlah Nabi yang terpilih Shallallahu 'alaihi wa sallam ketika bersabda. "Artinya :
Barangsiapa membuat perkara baru dalam urusan kami yang tidak ada (contoh) kami di atasnya, maka amalan tersebut ditolak" [Hadits Riwayat Bukhari-Muslim dari 'Aisyah].

----------------------
PARA ULAMA MEMPUNY AI KAIDAH :"ASAL DI DALAM SEMUA IBADAH ADALAH BATIL, SEHINGGA ADA DALIL". DAN BAIAT ADALAH IBADAH, KARENA SEORANG HAMBA BER -TAQARUB KEPADA RABBNYA TABARAKA WA TA'ALA DENGAN BAIAT TERSEBUT, SEBAGAIMANA TIDAK SAMAR LAGI !!
------------------------------------

MAKA BAIAT-BAIAT ISTITSNAIYYAH SEPERTI INI YANG TIDAK TERDAPAT DALAM NASH, BAIK DALAM AL-QUR'AN MAUPUN AL-HADITS ATAU TIDAK TERDAPAT PADA PERBUATAN SALAH SEORANG DARI SALAF ASSHALIH, adalah bid'ah dan perkara yang diada-adakan. Yang dibuat untuk menghianati orang awam dan kalangan orang-orang yang berilmu dari kaum muslimin, agar terpengaruh dengan tujuan merendahkan dan bertindak sesuka hatinya terhadap mereka DILAKUKAN DIBAWAH SYIAR AL-WALA' (LOYALITAS), AL-INTIMA' (KECENDERUNGAN), AS-SAM'U WA ATH-THA'AH (MENDENGAR DAN TAAT), TAUBAH DAN LAIN SEBAGAINYA DARI UNGKAPAN-UNGKAPAN yang dikemas dengan indah, kata-kata yang manis dan lafazh-lafazh yang mempesona.

DALIL-DALIL AL-QURAN TENTANG KEWAJIBAN TAAT KEPADA PEMERINTAH MUSLIM

Senin, 26 November 2012


Allah ta’ala  berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
"Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya dan pemerintah/penguaa di kalangan kalian, jika kalian berselisih dalam sesuatu perkara maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya, jika kalian beriman kegada Allah dan hari akhir. Yang demikiun lebih baik dan lebih bagus akibatnya. " (An-Nisa': 59)
وهذه الطاعة لولاة الأمر المفروضة على العباد مقيدة بما إذا لم يأمروا بمعصية الله - تعالي - فإذا أمروا بمعصية فلا يطاعون في هذه المعصية لأنه لا طاعة لمخلوق في معصية الخالق
Dalam ayat ini terdapat dalil yang menunjukan wajibnya mendengar dan taat kepada ulil amri (pemerintah). Yang demikian adalah secara mutlak untuk
kemudian diberi tqyid (ikatan) dalam sunnah yang tsabit bahwa ketaatan pada pemerintah adalah pada perkara yang baik dan bukan maksiat. (Muamalatul Hukkam fi Dhauil Kitab was Sunnah halaman 115)

Yang dirnaksud ulil amri dalam ayat ini adalah orang-orang yang Allah wajibkan untuk ditaati yang terdiri para penguasa, pemerintah, din para ulama.

Berkata Ibnu Athiyyah tentang ayat ini:

"Ketika pada apa yang telah lewat dalam ayat sebelumnya Allah memerintahkan kepada para penguasa, yaitu ucapan Allah ta’ala

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا
"Sesungguhnya Allah memerintahkun kepada kulian agar menunaikan amanat kepada yang berhak dun jiku kalian menghukumi manzlsia hendaklah menghukumi dengan adil. " (An-Nisa': 58)

Maka pada ayat ini - yakni ayat 59 - perintah Allah ditujukan kepada rakyat, memerintahkan agar mereka taat kepada Allah, yaitu melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, taat kepada Rasul-Nya dan taat  kepada penguasa. Sesuai dengan ucapan jumhur seperti Abu Hurairah,-Ibnu Abbas, lbnu Zaid dan lain-lain." (Al-Muharrar Al-Wajiz fi Tafsiril Kitabil Aziz juz 3, halaman 170, cetakan Al-Maghrib, Maroko)

Berkata Al-Hafidz Ibnu Katsir rohimahillah :
"Tampaknya - wallahu a'lam - ayat ini umum mencakup seluruh ulil amri apakah dari kalangan para penguasa ataupun para ulama." (Tafsirul Qur'anil Adzim
juz 1, halaman 530, Penerbit Darul Ma'rifah, Bairut, Cetakan pertama)

Berkata Ibnu Taimiyyah rohimahullah,:
"Ulil amri ada dua golongan: para ulama dan para penguasa." (Majmu' Facaeva juz 28, halaman 170, Penerbit Maktabah Ibnu Taimiyyah, Kairo, Mesir)

Berkata Syaikh 'Abdurrahman As-Sa'di rohimahullah:

"Allah memerintahkan untuk taat kepada ulil amri yaitu orang-orang yang mengurusi urusan manusia dari kalangan pemerintah dan para hakim serta para ulama dan juru fatwa. Karena sesungguhnya tidak akan beres urusan manusia baik masalah agama ataupun dunia kecuali dengan ketaatan dan keterikatan kepada mereka, dalam rangka taat kepada Allah dan berharap apa-apa yang ada pada sisi-Nya. Tetapi dengan syarat perintahnya bukan kemaksiatan. Kalau mereka memerintahkan pada kemaksiatan maka tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Al-Khalik. Sepertinya inilah rahasia mengapa tidak disebutkan kata perintahnya ketika menyebut  ulil arnri, adapun ketika menyebutkan Rasulullah menyebutkan kata perintahnya athii'u karena Rasulullah shollahllohu ‘alaihi wasallam  tidak memerintahkan kecuali ketaatan kepada Allah. Maka siapa yang mentaati Rasul berarti mentaati Allah. Adapun ulil amri tidak demikian, maka mereka tidak ditaati secara mutlak namun dengan syarat jika perintahnya bukan merupakan maksiat. " (Taisir karimir Rahman fi Tafsiril Kalamil Mannan juz 2, halaman 89, Penerbit Ar-kasatul Ammah, kyadh)

Berkata Syaikh Abu Bakar Al Jazairi rohimahullah:

"Wajibnya taat kepada Allah, taat kepada Rasul dan kepada ulil amri seperti para penguasa, para ulama, dan fuqaha adalah karena taat kepada Rasul merupakan
ketaatan kepada Allah, sedangkan taat kepada ulil amri merupakan ketaatan kepada Rasul." (Aisarut Tafasir Likalamil 'Aliyyil Kabir juz 1, halaman 418, Penerbit Nadil Madinatil Adabi, Cetakan pertama)

Berkata Abul Qasim AL-Asbahani rohimahullah:

"Allah berfirman 'A ti'ullaha Wa Ati'urrasul Wa Ulil amri Minkum." Dikatakan mereka adalah ulama, dikatakan pula mereka adalah penguasa. Bagi masing-masing dari mereka memiliki hak yang wajib untuk ditaati." (At-Targhib wa Tarhib juz 3, halaman 66, Penerbit Daarul Hadits, Kairo, Cetakan pertama)

Berkata Syaikh Muhammad bin Subayyil hafidhohullah:

"Ayat yang mulia ini menunjukkan dengan tegas secara tekstual atas wajibnya taat kepada para penguasa. Kewajiban taat kepada mereka merupakan larangan untuk bermaksiat kepada mereka.. .." (Al-Adillatus Syar’iyah Fi Bayauni Hakkir Rau'i War Ra'iyyab, halaman 29, Penerbir Daarus Salaf, Riyadh, Cetakan pertama)