11 PRINSIP DAKWAH SALAFIYYAH
Senin, 02 Juni 2014Diposting oleh Abu Hudzaifah Towaf Yusuf di 01.55
Label: DAKWAH KAMI
قل باختصار أنا { سلفي }
Katakan dengan singkat "saya salafy"
Muhaddits abad ini al-alamah as-syaikh Muhammad nashiruddin al-albany rahimahullah ditanya: mengapa dinamakan dengan as-salafiyah? Apakah itu adalah dakwah hizbiyah atau kelompok atau sebuah madzhab? Ataukah itu adalah kelompok baru di dalam islam?
Jawab:
Sesungguhnya kata "As-Salaf" sudah lazim dalam terminologi bahasa Arab maupun syariat Islam. Adapun yang menjadi bahasan kita kali ini adalah aspek syari’atnya. Dalam riwayat yang shahih, ketika menjelang wafat, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda kepada Sayidah Fatimah radyillahu ’anha :
فاتقي الله و اصبري ونعم السلف أنا لك
"Artinya : Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah, sebaik-baik "As-Salaf" bagimu adalah Aku".
Dalam kenyataannya di kalangan para ulama sering menggunakan istilah "As-Salaf". Satu contoh penggunaan "As-Salaf" yang biasa mereka pakai dalam bentuk syair untuk menumpas bid’ah :
وكل خير في إتباع من سلف ** وكل شر في ابتداع من خلف
"Dan setiap kebaikan itu terdapat dalam mengikuti orang-orang Salaf".
"Dan setiap kejelekan itu terdapat dalam perkara baru yang diada-adakan orang Khalaf".
Namun ada sebagian orang yang mengaku berilmu, mengingkari nisbat (penyandaran diri) pada istillah Salaf karena mereka menyangka bahwa hal tersebut tidak ada asalnya. Mereka berkata : "Seorang muslim tidak boleh mengatakan "saya seorang Salafi". Secara tidak langsung mereka beranggapan bahwa seorang muslim tidak boleh mengikuti Salafus Shalih baik dalam hal aqidah, ibadah ataupun ahlaq".
Tidak diragukan lagi bahwa pengingkaran mereka ini, (kalau begitu maksudnya) membawa konsekwensi untuk berlepas diri dari Islam yang benar yang dipegang para Salafus Shalih yang dipimpin Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam :
"Artinya : Sebaik-baik generasi adalah generasiku, kemudian sesudahnya, kemudian sesudahnya". (Hadits Shahih Riwayat Bukhari, Muslim).
Maka tidak boleh seorang muslim berlepas diri (bara’) dari penyandaran kepada Salafus Shalih. Sedangkan kalau seorang muslim melepaskan diri dari penyandaran apapun selain Salafus Shalih, tidak akan mungkin seorang ahli ilmupun menisbatkannya kepada kekafiran atau kefasikan.
Orang yang mengingkari istilah ini, bukankah dia juga menyandarkan diri pada suatu madzhab, baik secara akidah atau fikih ..?. Bisa jadi ia seorang Asy’ari, Maturidi, Ahli Hadits, Hanafi, Syafi’i, Maliki atau Hambali semata yang masih masuk dalam sebutan Ahlu Sunnah wal Jama’ah.
Padahal orang-orang yang bersandar kepada madzhab Asy’ari dan pengikut madzhab yang empat adalah bersandar kepada pribadi-pribadi yang tidak maksum. Walau ada juga ulama di kalangan mereka yang benar. Mengapa penisbatan-penisbatan kepada pribadi-pribadi yang tidak maksum ini tidak diingkari ..?
Adapun orang yang berintisab kepada Salafus Shalih, dia menyandarkan diri kepada ishmah (kemaksuman/terjaga dari kesalahan) secara umum. Rasul telah mendiskripsikan tanda-tanda Firqah Najiah yaitu komitmennya dalam memegang sunnah Nabi dan para sahabatnya. Dengan demikian siapa yang berpegang dengan manhaj Salafus Shalih maka yakinlah dia berada atas petunjuk Allah ’Azza wa Jalla.
Salafiyah merupakan predikat yang akan memuliakan dan memudahkan jalan menuju "Firqah Najiyah". Dan hal itu tidak akan didapatkan bagi orang yang menisbatkan kepada nisbat apapun selainnya. Sebab nisbat kepada selain Salafiyah tidak akan terlepas dari dua perkara :
Pertama.
Menisbatkan diri kepada pribadi yang tidak maksum.
Kedua.
Menisbatkan diri kepada orang-orang yang mengikuti manhaj pribadi yang tidak maksum.
Jadi tidak terjaga dari kesalahan, dan ini berbeda dengan Ishmah para shahabat Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam, yang mana Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam memerintahkan supaya kita berpegang teguh terhadap sunnahnya dan sunnah para sahabat setelahnya.
Kita tetap terus dan senantiasa menyerukan agar pemahaman kita terhadap Al-Kitab dan As-Sunnah selaras dengan manhaj para sahabat, sehingga tetap dalam naungan Ishmah (terjaga dari kesalahan) dan tidak melenceng maupun menyimpang dengan pemahaman tertentu yang tanpa pondasi dari Al-Kitab dan As-Sunnah.
Mengapa sandaran terhadap Al-Kitab dan As-Sunnah belum cukup ..?
Sebabnya kembali kepada dua hal, yaitu hubungannya dengan dalil syar’i dan fenomena Jama’ah Islamiyah yang ada.
Berkenan Dengan Sebab Pertama :
Kita dapati dalam nash-nash yang berupa perintah untuk menta’’ati hal lain disamping Al-Kitab dan As-Sunnah sebagaimana dalam firman Allah :
وأطيعوا الله وأطيعوا الرسول وأولي الأمر منكم
"Artinya : Dan taatilah Allah, taatilah Rasul dan Ulil Amri diantara kalian".
[An-Nisaa : 59].
Jika ada Waliyul Amri yang dibaiat kaum Muslimin maka menjadi wajib ditaati seperti keharusan taat terhadap Al-Kitab dan As-Sunnah. Walau terkadang muncul kesalahan dari dirinya dan bawahannya. Taat kepadanya tetap wajib untuk menepis akibat buruk dari perbedaan pendapat dengan menjunjung tinggi syarat yang sudah dikenal yaitu :
"لا طاعة لمخلوق في معصية الخالق".
"Artinya : Tidak ada ketaatan kepada mahluk di dalam bemaksiat kepada Al-Khalik". [Lihat As-Shahihah No. 179]
ومن يشاقق الرسول من بعد ما تبين له الهدى ويتبع غير سبيل المؤمنين نوله ما تولى ونصله جهنم وساءت مصيرا
"Artinya : Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin. Kami biarkan mereka berkuasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu, dan Kami masukkan dia ke dalam Jahannan dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali". [An-Nisaa : 115]
Allah Maha Tinggi dan jauh dari main-main. Tidak disangkal lagi, penyebutan Sabilil Mu’minin (Jalan kaum mukminin) pasti mengandung hikmah dan manfa’at yang besar. Ayat itu membuktikan adanya kewajiban penting yaitu agar ittiba’ kita terhadap Al-Kitab dan As-Sunnah harus sesuai dengan pemahaman generasi Islam yang pertama (generasi sahabat). Inilah yang diserukan dan ditekankan oleh dakwah Salafiyah di dalam inti dakwah dan manhaj tarbiyahnya.
Sesungguhnya Dakwah Salafiyah benar-benar akan menyatukan umat. Sedangkan dakwah lainnya hanya akan mencabik-cabiknya. Allah berfirman :
وكونوا مع الصادقين
"Artinya : Dan hendaklah kamu bersama-sama orang-orang yang benar". [At-Taubah : 119]
Siapa saja yang memisahkan antara Al-Kitab dan As-Sunnah dengan As-Salafus Shalih bukanlah seorang yang benar selama-lamanya.
Adapun Berkenan Dengan Sebab Kedua :
Bahwa kelompok-kelompok dan golongan-golongan (umat Islam) sekarang ini sama sekali tidak memperhatikan untuk mengikuti jalan kaum mukminin yang telah disinggung ayat di atas dan dipertegas oleh beberapa hadits.
Diantaranya hadits tentang firqah yang berjumlah tujuh puluh tiga golongan, semua masuk neraka kecuali satu. Rasul mendeskripsikannya sebagai :
"Dia (golongan itu) adalah yang berada di atas pijakanku dan para sahabatku hari ini".
Hadits ini senada dengan ayat yang menyitir tentang jalan kaum mukminin. Di antara hadits yang juga senada maknanya adalah, hadits Irbadl bin Sariyah, yang di dalamnya memuat :
"Artinya : Pegangilah sunnahku dan sunnah Khulafair Rasyidin sepeninggalku".
Jadi di sana ada dua sunnah yang harus di ikuti : sunnah Rasul dan sunnah Khulafaur Rasyidin.
Menjadi keharusan atas kita -generasi mutaakhirin- untuk merujuk kepada Al-Kitab dan As-Sunnah dan jalan kaum mukminin. Kita tidak boleh berkata : "Kami mandiri dalam memahami Al-Kitab dan As-Sunnah tanpa petunjuk Salafus As-Shalih".
Demikian juga kita harus memiliki nama yang membedakan antara yang haq dan batil di jaman ini. Belum cukup kalau kita hanya mengucapkan :"Saya seorang muslim (saja) atau bermadzhab Islam. Sebab semua firqah juga mengaku demikian baik Syiah, Ibadhiyyah (salah satu firqah dalam Khawarij), Ahmadiyyah dan yang lain. Apa yang membedakan kita dengan mereka ..?
Kalau kita berkata : Saya seorang muslim yang memegangi Al-Kitab dan As-Sunnah. ini juga belum memadai. Karena firqah-firqah sesat juga mengklaim ittiba’ terhadap keduanya.
Tidak syak lagi, nama yang jelas, terang dan membedakan dari kelompok sempalan adalah ungkapan : "Saya seorang muslim yang konsisten dengan Al-Kitab dan As-Sunnah serta bermanhaj Salaf", atau disingkat "Saya Salafi".
Kita harus yakin, bersandar kepada Al-Kitab dan As-Sunnah saja, tanpa manhaj Salaf yang berperan sebagai penjelas dalam masalah metode pemahaman, pemikiran, ilmu, amal, dakwah, dan jihad, belumlah cukup.
Kita paham para sahabat tidak berta’ashub terhadap madzhab atau individu tertentu. Tidak ada dari mereka yang disebut-sebut sebagai Bakri, Umari, Utsmani atau Alawi (pengikut Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali). Bahkan bila seorang di antara mereka bisa bertanya kepada Abu Bakar, Umar atau Abu Hurairah maka bertanyalah ia. Sebab mereka meyakini bahwa tidak boleh memurnikan ittiba’ kecuali kepada satu orang saja yaitu Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam, yang tidak berkata dengan kemauan nafsunya, ucapannya tiada lain wahyu yang diwahyukan.
Taruhlah misalnya kita terima bantahan para pengkritik itu, yaitu kita hanya menyebut diri sebagai muslimin saja tanpa penyandaran kepada manhaj Salaf ; padahal manhaj Salaf merupakan nisbat yang mulia dan benar. Lalu apakah mereka (pengkritik) akan terbebas dari penamaan diri dengan nama-nama golongan madzhab atau nama-nama tarekat mereka .? Padahal sebutan itu tidak syar’i dan salah ..!?.
Allah adalah Dzat Maha pemberi petunjuk menuju jalan lurus. Wallahu al-Musta’in.
Demikianlah jawaban kami. Istilah Salaf bukan menunjukkan sikap fanatik atau ta’assub pada kelompok tertentu, tetapi menunjukkan pada komitmennya untuk mengikuti Manhaj Salafus Shalih dalam memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Wallahu Waliyyut-Taufiq.
[Disalin dari Majalah Al-Ashalah edisi 9/Th.II/15 Sya’ban 1414H, Majalah As-Sunnah Edisi 09/Th III/1419H-1999M]
====================================
السؤال: لماذا التسمي بالسلفية؟ أهي دعوة حزبية أم طائفية أو مذهبية؟ أم هي فرقة جديدة في الاسلام؟
الجواب: إن كلمة السلف معروفة في لغة العرب وفي لغة الشرع؛ وما يهمنا هنا هو بحثها من الناحية الشرعية:
فقد صح عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال في مرض موته للسيدة فاطمة رضي الله عنها:" فاتقي الله و اصبري ونعم السلف أنا لك ".
ويكثر استعمال العلماء لكلمة السلف، وهذا أكثر من أن يعد ويحصى، وحسبنا مثالا واحدا وهو ما يحتجون به في محاربة البدع:
وكل خير في إتباع من سلف ** وكل شر في ابتداع من خلف
ولكن هناك من مدعي العلم من ينكر هذه النسبة زاعما أن لا أصل لها! فيقول: " لا يجوز أن يقول المسلم : أنا متبع للسلف الصالح فيما كانوا عليه من عقيدة وعبادة وسلوك ."ّ
لا شك أن مثل هذا الإنكار -لو كان يعنيه- يلزم منه التبرؤ من الاسلام الصحيح الذي كان عليه سلفنا الصالح، وعلى رأسهم النبي صلى الله عليه وسلم كما يشير الحديث المتواتر الذي في (الصحيحين) وغيرهما عنه صلى الله عليه وسلم :" خير الناس قرني، ثم الذين يلونهم، ثم الذين يلونهم".
فلا يجوز لمسلم أن يتبرأ من الانتساب الى السلف الصالح، بينما لو تبرأ من أية نسبة أخرى لم يمكن لأحد من أهل العلم أن ينسبه الى كفر ،أو فسوق.
والذي ينكر هذه التسمية نفسه، ترى ألا ينتسب الى مذهب من المذاهب ؟! سواء أكان هذا المذهب متعلقا بالعقيدة أو بالفقه ؟
فهو إما أن يكون أشعريا أو ما تريديا، وإما أن يكون من اهل الحديث أو حنفيا، أو شافعيا أو مالكيا أو حنبليا؛ مما يدخل في مسمى اهل السنة والجماعة، مع إن الذي ينتسب الى المذهب الأشعري أو المذاهب الأربعة، فهو ينتسب الى أشخاص غير معصومين بلا شك، وإن كان منهم العلماء الذين يصيبون، فليت شعري هلا أنكر مثل هذه الانتسابات الى الأفراد غير المعصومين ؟
وأما الذي ينتسب الى السلف الصالح، فإنه ينتسب الى العصمة-على وجه العموم-؟، وقد ذكر النبي من علامات الفرقة الناجية أنها تتمسك بما كان عليه رسول الله صلى الله عليه وسلم وما كان عليه أصحابه.
فمن تمسك بهم كان يقينا على هدى من ربه.
وهي نسبة تشرف المنتسب إليها وتيسر له سبيل الفرقة الناجية، وليس ذلك لمن ينتسب أية نسبة أخرى، لأنها لا تعدو واحدا من أمرين: إما انتسابا الى شخص غير معصوم، أو الى الذين يتبعون منهج هذا الشخص غير المعصوم، فلا عصمة كذلك وعلى العكس منه عصمة أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم ، وهو الذي أمرنا أن نتمسك بسنته وسنة أصحابه من بعده.
ونحن نصر ونلح أن يكون فهمنا لكتاب الله وسنة رسوله صلى الله عليه وسلم وفق منهج صحبه، لكي نكون في عصمة من أن نميل يمينا أو يسارا، ومن أن ننحرف بفهم خاص لنا ليس هناك ما يدل عليه من كتاب الله سبحانه وسنة رسوله صلى الله عليه وسلم .
ثم؛ لماذا لا نكتفي بالانتساب الى الكتاب والسنة؟
السبب يعود الى أمرين اثنين:
أحدهما:متعلق بالنصوص الشرعية.
والآخر: بواقع الطوائف الإسلامية.
بالنسبة للسبب الأول: فنحن نجد في النصوص الشرعية أمرا بطاعة شئ آخر إضافة الى الكتاب والسنة، كما في قوله تعالى:{وأطيعوا الله وأطيعوا الرسول وأولي الأمر منكم} فلو كان هناك ولي أمر مبايع من المسلمين لوجبت طاعته كما تجب طاعة الكتاب والسنة، مع العلم انه قد يخطئ هو ومن حوله، فوجبت طاعته دفعا لمفسدة اختلاف الآراء،وذلك بالشرط المعروف :"لا طاعة لمخلوق في معصية الخالق".
وقال الله تعالى :** ومن يشاقق الرسول من بعد ما تبين له الهدى ويتبع غير سبيل المؤمنين نوله ما تولى ونصله جهنم وساءت مصيرا}.
إن الله عز وجل يتعالى و يترفع عن العبث، ولا شك ولا ريب أن ذكره سبيل المؤمنين إنما هو لحكمة وفائدة بالغة، فهو يدل على أن هناك واجبا مهما وهو أن إتباعنا لكتاب الله ولسنة رسول صلى الله عليه وسلم يجب أن يكون وفق ما كان عليه المسلمون الأولون ، وهم أصحاب الرسول صلى الله عليه وسلم ، ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم؛ وهذا ما تنادي به الدعوة السلفية، وما ركزت عليه في أس دعوتها، و منهج تربيتها.
إن الدعوة السلفية- بحق - تجمع الأمة ،وأي دعوة أخرى تفرق الأمة؛ يقول الله عز وجل:{وكونوا مع الصادقين}، ومن يفرق بين الكتاب والسنة من جهة وبين السلف الصالح من جهة أخرى لا يكون صادقا أبدا.
أما بالنسبة للسبب الثاني: فالطوائف والأحزاب الآن لا تلتفت مطلقا الى إتباع سبيل المؤمنين الذي جاء ذكره في الآية، وأيدته بعض الأحاديث منه حديث الفرق الثلاث والسبعين، وكلها في النار إلا واحدة، وصفها رسول الله صلى الله عليه وسلم بأنها:"هي التي على مثل ما أنا عليه اليوم وأصحابي".
وهذا الحديث يشبه تلك الآية التي تذكر سبيل المؤمنين، ومنها حديث العرباض ابن سارية وفيه:" فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين من بعدي ".
إذن هناك سنتان: سنة الرسول صلى الله عليه وسلم وسنة الخلفاء الراشدين.
ولا بد لنا - نحن المتأخرين- أن نرجع الى الكتاب والسنة وسبيل المؤمنين، ولا يجوز أن نقول: إننا نفهم الكتاب والسنة استقلالا دون الالتفات الى ما كان عليه سلفنا الصالح!!
ولا بد من نسبة مميزة دقيقة في هذا الزمان، فلا يكفي أن نقول: أنا مسلم فقط ! أو مذهبي الاسلام ! فكل الفرق تقول ذلك: الرافضي والاباضي والقادياني وغيرهم من الفرق !! فما الذي يميزك عنهم ؟
ولو قلت: أنا مسلم على الكتاب والسنة لما كفى أيضا، لأن أصحاب الفرق-من أشاعرة ومانريدية وحزبيين- يدعون إتباع هذين الأصلين كذلك.
ولا شك أن التسمية الواضحة الجلية المميزة البينة هي أن نقول : أنا مسلم على الكتاب والسنة وعلى منهج سلفنا الصالح وهي أن نقول باختصار :"أنا سلفي".
وعليه؛ فإن الصواب الذي لا محيد عنه أنه لا يكفي الاعتماد على القرآن والسنة دون منهج السلف المبين لهما في الفهم والتصور، والعلم والعمل، والدعوة والجهاد.
ونحن نعلم أنهم -رضي الله عنهم- لم يتعصبوا لمذهب معين أو شخص بعينه، فليس من كان بكريا أو عمريا أوعثمانيا أو علويا، بل كان أحدهم إذا تيسر له أن يسأل أبا بكر أو عمر أو أبا هريرة سأله؛ ذلك بأنهم آمنوا أنه لا يجوز الإخلاص في الإتباع إلا لشخص واحد، ألا وهو رسول الله صلى الله عليه وسلم ؛ الذي لا ينطق عن الهوى، إن هو إلا وحي يوحى.
ولو سلمنا للناقدين جدلا أننا سنتسمى بالمسلمين فقط دون الانتساب للسلفية-مع أنها نسبة شريفة صحيحة-، فهل هم يتخلون عن التسمي بأسماء أحزابهم، أو مذاهبهم، أو طوائفهم-على كونها غير شرعية ولا صحيحة ؟!! فحسبكم هذا التفاوت بيننا
وكل إناء بما فيه ينضح
Diposting oleh Abu Hudzaifah Towaf Yusuf di 03.02
Label: DAKWAH KAMI
Sentilan Buat Para Penganut Madzhab "POKO'E Manqulnya Begini"
شـــاة ولــو طــارت !!!!!
POKOKNYA KAMBING WALAUPUN TERBANG.
Ini ada sebuah cerita. suatu saat ada dua orang musafir melintasi padang pasir. ketika mereka tengah berjalan, tiba-tiba keduanya melihat di kejauhan sana ada segerombolan benda yang berwarna hitam.
orang yang satu mengatakan itu adalah kumpulan burung gagak. yang satunya lagi mengatakan bahwa itu adalah kumpulan kambing.
Ketika mereka mendekat, kumpulan warna hitam itu tiba-tiba terbang. lalu yang orang pertama mengatakan, “Bukankan sudah kukatakan sebelumnya baha itu adalah burung gagak.” orang yang kedua (karena fanatik buta atas pendapatnya), dia berkata, “Pokoknya kambing walaupun bisa terbang.”
------------------------------------
يروى ان هــناك صديقان كانا يمشيا ف الصحراء , فشــاهدا شيئا اسود من بعيد , فقال الاول : هذا غراب , بينما قال الثاني هذه شــاة , وظلا على هذا الحال حتى وصلا لهذ الشيئ الاسود , فإذا به يطير , فقال الاول : اولم اقل لك انه غراب , فرد الثاني قائلا : شـــاة ولــو طــارت !!!!!
Diposting oleh Abu Hudzaifah Towaf Yusuf di 22.21
Label: DAKWAH KAMI
معالم في طريق الدعوة إلى الله تعالى
KARAKTERISTIK DAKWAH ILALLAH TA'ALA
بدر بن علي بن طامي العتيبي
Kapan seseorang menjadi da'I penyeru kepada agama Allah diatas jalan Nabi Shollalohu 'alaihi wasallam?
الحمد لله رب العالمين، وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين. أما بعد:
قال الله تعالى: ﴿ قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللهِ وَمَا أَنَا مِنَ المُشْرِكِينَ ﴾ (يوسف:108).
Katakanlah: "Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha suci Allah, dan aku tiada Termasuk orang-orang yang musyrik". Surat Yusuf ayat 108
Ayat ini termasuk dari kumpulan ayat yang menunjukkan pada karakteristik utama dakwah yang benar menuju Allah ta'ala, bahwa setiap muslim pasti mengarahkan dirinya, baik itu karena memuliakan atau karena kewajiban ia berimtima' Nabi shollallohu 'alai wasallam serta mengikutinya
Namun ayat ini memberikan batas kepada orang yang benar di dalam dakwah mengikuti Nabi Shollallohu 'alai wasallah, dan ia kokoh pada garis ini atas dua sisi yang penting yang saling mengikat serta tidak boleh dipisahkan;
Sisi pertama : ﴿ أَدْعُو إِلَى اللهِ ﴾ ( aku menyeru kepada Allah ) terdapat dua makna yang penting disini :
a. Makna pertama : ikhlas karena Allah ta'ala, dan ini adalah realisasi syahadat لا إله إلا الله , karena dakwah/menyeru kepada Allah termasuk sisi peribadatan, dan keikhlasan merupakan syarat diterimanya berbagai ibadah.
b. Makna kedua: dakwah kepada Allah semata, tidak berdakwah mengajak kepada golongan, nasab ( keturunan ), kelompok, warna kulit, daerah, tetapi semua dakwah menuju kepada Allah semata dan kepada agamanya.
Sisi kedua : firman Allah ﴿ عَلَى بَصِيرَةٍ ﴾ (dengan hujjah yang nyata ), disini dapat diambil juga dua makna yang penting:
- Makna pertama : mengikuti sunnah rosulullah shollallohu 'alaihi wasallam, dan ini merealisasikan syahadat أن محمداً رسولُ الله, maka kita berdakwah kepada Allah adalah termasuk perintah rosulullah
shollallohu 'alaihi wasallam, Rosulullah telah bersabda:
(من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو ردّ) متفق عليه.
Barang siapa yang memperbaharui di dalam perkaraku ini ( perkara agama ) yang bukan termasuk perkaraku, maka tertolak. Muttafaqun 'alaihi
- Makna kedua : bahwa dakwah kepada Allah berdasar kepada ilmu, maka kita tidaklah diperbolehkan berdakwah kepada Allah berdasar kebodohan, sebab orang yang jahil maka kerusakan yang ditimbulkan jauh lebih banyak dibandingkan kebaikan yang ditimbulkan, seandainya orang jahil diam ( tidak komentar ngawur) maka baiklah keadaan masyarakat, setiap bertambahnya ilmu seseorang maka ketika itu bertambah pulalah kemanfaatan akan dakwahnya.
Kemudian seorang da'I tidaklah termasuk di dalam ayat ﴿ أنا ومن اتبعنِ ﴾ ( saya dan orang yang mengikutiku ) kecuali dengan dua sisi ini ( yang sudah kita sebutkan diatas )
Kemudian selanjutnya ada tiga jenis da'I yang terhalang di dalam masalah ini;
Pertama :
seseorang yang memiliki ilmu dan bashiroh, akan tetapi dakwahnya menuju kepada selain Allah ta'ala, ia mengambil bagian hanya untuk kepentingan pribadi dan duniawiyah, maka orang ini tidak termasuk mengikuti Nabi shollallohu 'alai wasallam. Dan untuk jenis orang yang semacam ini Rosulullah shollalahu 'alaihi wasallam bersabda :
يخرج في آخر الزمان رجال يختلون الدنيا بالدين، يلبسون للناس جلود الضأن من اللين، ألسنتهم أحلى من العسل، وقلوبهم قلوب الذئاب يقول الله أبي يغترون أم علي يجترئون فبي حلفت لأبعثنَّ على أولئك منهم فتنة تدع الحليم منهم حيران) رواه الترمذي وغيره.
“
Akan muncul di akhir zaman orang-orang yang mencari dunia dengan agama. Di hadapan manusia mereka memakai baju dari bulu domba untuk memberi kesan kerendahan hati mereka, lisan mereka lebih manis dari gula namun hati mereka adalah hati serigala (sangat menyukai harta dan kedudukan). Alloh berfirman, “Apakah dengan-Ku (kasih dan kesempatan yang Kuberikan) kalian tertipu ataukah kalian berani kepada-Ku. Demi Diriku, Aku bersumpah. Aku akan mengirim bencana dari antara mereka sendiri yang menjadikan orang-orang santun menjadi kebingungan (apalagi selain mereka) sehingga mereka tidak mampu melepaskan diri darinya.” (HR: Tirmidzi)
Catatan : Syaikh al-albany menyebutkan hadits ini sangat dho'if
Dan juga yang termasuk pada bab ini adalah orang-orang yang memiliki ilmu, Allah memberikan padanya cahaya ilmu namun ia tidak memanfaatkannya dan masyarakatpun tidak mengambil manfaat dari ilmu tersebut, maka ia tertinggal dari berdakwah kepada Allah dan terbuai dengan kehidupan dunia, dan Allah menjadikan perumpamaan kepada orang yang semisal ini pada perumpamaan yang sangat mengerikan, Allah berfirman :
﴿ وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آتَيْنَاهُ آيَاتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ ذَلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ سَاءَ مَثَلًا الْقَوْمُ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَأَنْفُسَهُمْ كَانُوا يَظْلِمُونَ ﴾ (الأعراف : 175 – 177).
175. Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), kemudian Dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu Dia diikuti oleh syaitan (sampai Dia tergoda), Maka jadilah Dia Termasuk orang-orang yang sesat.
176. dan kalau Kami menghendaki, Sesungguhnya Kami tinggikan (derajat) nya dengan ayat-ayat itu, tetapi Dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, Maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya Dia mengulurkan lidahnya (juga). demikian Itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami. Maka Ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir.
177. Amat buruklah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan kepada diri mereka sendirilah mereka berbuat zalim. ( surat al-a'raf )
Dan mereka ini termasuk dari jenis (المغضوب عليهم) merekalah al-yahudi, yakni orang-orang mana kita senantiasa berlindung kepada Allah dari jalan mereka pada setiap sholat kita.
Dan berdakwah adalah sebaik-baik dan seutamanya sebuah ilmu, sebagaimana friman Allah
﴿ وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ المُسْلِمِينَ ﴾ (فصِّلت:33)
33. siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang menyerah diri?"
Kedua :
Orang yang ikhlash dan memiliki niatan yang baik, akan tetapi bodoh terhadap agama Allah, maka kerusakan yang dia perbuat lebih parah dibanding dengan apa-apa yang dia perbaiki, dia sesat dan juga menyesatkan, dan dengannya terjadi fitnah di akhir zaman sebagaimana sabda Nabi shollallohu 'alaihi wasallam
(إن الله لا يقبض العلم انتزاعا ينتزعه من العباد ولكن يقبض العلم بقبض العلماء حتى إذا لم يبق عالما اتخذ الناس رءوسا جهالا فسئلوا فأفتوا بغير علم فضلوا وأضلوا) متفق عليه.
“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya dari hamba-hamba. Akan tetapi Dia mencabutnya dengan diwafatkannya para ulama sehingga jika Allah tidak menyisakan seorang alim pun, maka orang-orang mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh. Kemudian mereka ditanya, mereka pun berfatwa tanpa dasar ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan.” (muttafaqun 'alai)
Dan termasuk jenis ini adalah golongan khowarij, yang mana merekalah kelompok yang dikhabarkan oleh Nabi Sholallohu 'alaihi wasallam tentang mereka ini, Rosululloh bersabda kepada para sahabat :
(يخرج فيكم قوم تحقرون صلاتكم مع صلاتهم وصيامكم مع صيامهم وعملكم مع عملهم يقرءون القرآن لا يجاوز حناجرهم يمرقون من الدين كما يمرق السهم من الرمية) متفق عليه.
“Akan keluar di tengah-tengah kalian satu kaum yg kalian meremehkan shalat kalian bila dibandingkan dengan shalat mereka puasa kalian dengan puasa mereka amalan kalian dengan amalan mereka. Mereka membaca Al-Qur’an tapi tidak melewati tenggorokan mereka. Mereka keluar dari agama ini seperti lepas anak panah dari sasaran ( muttafaqun 'alaihi )
Dan juga termasuk jenis ini adalah (الضالون) mereka adalah orang-orang nashrani yang mana kita selalu berlindung kepada Allah dari jalan-jalan mereka pada setiap sholat, mereka senantiasa beramal dan beribadah tanpa landasan ilmu, maka mereka tersesat dari jalan yang lurus
Dan yang ketiga:
Mereka ini adalah jenis manusia yang sangat jelek keadaannya, mereka adalah orang-orang yang bodoh lagi memiliki niat yang buruk pula, maka
فجمع حشفاً وسوء كيلة
"berkumpulah jenis kurma yang jelek dengan takaran yang jelek pula"
ولا حول ولا قوة إلا بالله تعالى.
وخير السبل سبيل نبينا محمد صلى الله عليه وسلم الذي اجتمع فيه صدق الإخلاص لله تعالى، مع صدق المتابعة للنبي صلى الله عليه وسلم، وأهلية العلم للدعوة إلى الله تعالى.
http://al-islam.com/Content.aspx?pageid=1153&ContentID=987
Diposting oleh Abu Hudzaifah Towaf Yusuf di 09.17
Label: DAKWAH KAMI

