Tampilkan postingan dengan label ADAB DAN AKHLAQ. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ADAB DAN AKHLAQ. Tampilkan semua postingan

JANGAN CEPAT MENAMPIK SESUATU SECARA UMUM

Sabtu, 26 Oktober 2013

Sebagian orang diuji dengan masalah ini. Syaikhul Islam menyebutkan, pengetahuan manusia tentang apa yang ia ketahui lebih banyak daripada pengetahuannya terhadap apa yang tidak ia ketahui.

Maksudnya, seandainya Anda menghitung apa yang Anda ketahui, niscaya Anda bisa mengatakan saya mengetahui ini dan itu. Namun Anda tidak bisa mengatakan, saya tidak mengetahui ini dan itu. Sebab ilmu Anda jika ditinjau dari apa yang Anda miliki termasuk kebodohan yang ringan. Karenanya, jangan cepat cepat menafikan secara umum (mutlak). Misalnya, menafikan perkataan dari seorang ulama, menafikan periwayatan sebuah hadits, atau keshahihan sebuah hadits.

Saya akan membawakan contoh dari ulama yang namanya memenuhi kitab hadits, yaitu IMAM AZ-ZUHRI. Jika Anda membuka lembaran-lembaran Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim juga kitab induk hadits yang enam, niscaya Anda akan mendapati nama Imam ini berkali-kali disebutkan.

Ibnu Asakir, pengarang kitab Tarikh ad-Dimasyqi menyebutkan bahwa az-Zuhri pemah mengalami kejadian langka dalam masalah ini. Az-Zuhri berkata: "Kemudian pemberi nasihat itu menyebutkan satu hadits. Saya
pun berkata padanya bahwa hadits ini tidak pemah diriwayatkan
dalam Sunnah Nabi. Pemberi nasihat itu duduk lalu seorang pemuda berdiri dan berkata,

"Wahai Imam!" Saya menyahut,
''Ya."
Pemuda itu bertanya, "Apakah Anda menghapal sunnah (hadits) semuanya?"
Saya jawab, "Tidak."
Apakah Anda menghapal dua pertiganya?"
"Tidak."
"Apakah Anda menghapal setengahnya?"
"Tidak."
Ia kemudian berkata, "Anggap saja Anda menghapal setengahnya dan jadikan hadits yang disebutkan oleh syaikh (pemberi nasihat) tadi termasuk setengah dari apa yang tidak Anda hapal."
Az-Zuhri pun terdiam dan mengakui kekuatan hujjah pemuda itu. (Biografi az-Zuhri dalam Tarikh ad-Dimasyqi, him. 154. Lihat juga: Tadrib ar-Rawi, as-Suyuthi. Beliau telah menyebutkan cerita ini secara lengkap)

Jangan Anda katakan di tengah forum atau majelis bahwa hadits ini tidak pemah diriwayatkan dalam sunnah, atau hadits ini tidak shahih dari Nabi Shollallahu ‘alaihi wasallam. Bisa jadi Anda telah berdusta atas Nabi

Saya ingat ketika dahulu berada di Mina dalam suatu majelis bersama yang mulia Syaikh Muhammad Nashirudin al Albani rahimahullah
Yaltu pada muslm haji tahun 1398 H dalam kemah beliau di Mina

Salah seorang dari mereka (orang-orang yang hadir) bertanya. Dalam pertanyaan itu, ia mendhaifkan suatu hadits secara mutlak. Ia berkata bahwa hadits ini tidak mempunyai sanad yang shahih, atau ungkapan sejenisnya.

Syaikh al-Albani berkata, "ADAPUN PERKATAANMU (TIDAK ADA JALAN YANG SHAHIH) BISA JADI MERUPAKAN KEBOHONGAN ATAS NABI. Sebab mungkin saja hadits ini mempunyai sanad shahih yang tidak engkau ketahui, sehingga perkataanmu yang menafikan secara umum ini berarti mendustakan sabda Nabi.

Jika engkau harus mengatakan hal tersebut, maka katakan: 'sejauh pengetahuan saya'." Demikianlah saya pahami dari perkataan Syaikh al-Albani.

Jadi, jika Anda mencari sebuah hadits dan tidak Anda temui, maka katakan: saya tidak menemukan hadits ini, sejauh penelitian saya. Dengan begitu, Anda selamat dari celaan.

Jika ada orang yang mengingkarimu, maka batasan ini bisa menyelamatkanmu dari cercaan dan celaan. Karena itu Syaikhul Islam menyebutkan, bisa saja sesuatu itu samar bagi orang pintar dan diketahui oleh orang awam.
Kemudian ia membawakan firman Allah dalam surat an-Naml, ketika burung Hudhud yang rendah berdiri di depan seorang Nabi dan raja, seraya berkata,

فَقَالَ أَحَطْتُ بِمَا لَمْ تُحِطْ بِهِ وَجِئْتُكَ مِنْ سَبَإٍ بِنَبَإٍ يَقِينٍ (22) النمل

"Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya, dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang
diyakini." (An-Naml: 22)

Jangan cepat-cepat menafikan sesuatu, karena hal ini menunjukkan kesombongan. Katakan dengan sopan sebagaimana ulama dan para pendahulu kita juga mengucapkan dengan santun. Mereka berkata, "INI SEBATAS YANG KAMI KETAHUI."

Dinukil dari: ma’alim fii toriq tholabi alilmi (syaikh abdul aziz bin Muhammad as-sadhan)

Kamis, 28 Januari 2010

DIANTARA SEBAB-SEBAB SESEORANG

TERGELINCIR DARI KEBENARAN

( SIFAT 'UJUB )

العجب

MERASA POL SENDIRI[1]

Sifat ujub akan membawa pemiliknya untuk mengagungkan diri sendiri, sehingga ia merasa senang dengan apa yang dimilikinya dan tidak membutuhkan yang lain, kemudian ia beranggapan bahwa sebuah kebenaran tidak akan pergi darinya, seakan akan ia telah mendapatkan mandat kebenaran, ini adalah sifat orang-orang kafir, Allah berfirman :

فَلَمَّا جَاءَتْهُمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَرِحُوا بِمَا عِنْدَهُمْ مِنَ الْعِلْمِ وَحَاقَ بِهِمْ مَا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ (83) سورة غافر

Maka tatkala datang kepada mereka Rasul-rasul (yang diutus kepada) mereka dengan membawa keterangan-keterangan, mereka merasa senang dengan pengetahuan yang ada pada mereka dan mereka dikepung oleh azab Allah yang selalu mereka perolok-olokkan itu.

وَذَلِكَ لِأَنَّهُمْ لَمَّا جَاءَتْهُمْ الرُّسُل بِالْبَيِّنَاتِ وَالْحُجَج الْقَاطِعَات وَالْبَرَاهِين الدَّامِغَات لَمْ يَلْتَفِتُوا إِلَيْهِمْ وَلَا أَقْبَلُوا عَلَيْهِمْ وَاسْتَغْنَوْا بِمَا عِنْدهمْ مِنْ الْعِلْم فِي زَعْمِهِمْ عَمَّا جَاءَتْهُمْ بِهِ* تفسير القرآن العظيم

Dan demikian itu karena sesungguhnya tatkala para rosul mendatangi mereka dengan membawa keterangan, hujjah yang kokoh serta dalil-dalil yang tidak terbantahkan, mereka tidak menoleh kepada para utusan dan tidak menerima atas risalah mereka, dan di dalam persangkaan mereka, mereka merasa cukup dengan ilmu yang ada pada diri mereka daripada apa-apa yang dibawa oleh para utusan

Dan ketika seseorang merasa 'ujub dengan dirinya serta tidak membutuhkan yang lainnya, maka sungguh sempurnalah kebinasaannya, karena tidak memungkinkan baginya untuk menoleh pada ucapan orang lain yang lebih baik/utama, apa lagi ia mau menerimanya walaupun ucapan orang lain tersebut benar.

Rosululloh J telah berpesan

حَدَّثَنِي أَبُو أُمَيَّةَ الشَّعْبَانِيُّ قَالَ سَأَلْتُ أَبَا ثَعْلَبَةَ الْخُشَنِيَّ فَقُلْتُ يَا أَبَا ثَعْلَبَةَ كَيْفَ تَقُولُ فِي هَذِهِ الْآيَةِ { عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ } قَالَ أَمَا وَاللَّهِ لَقَدْ سَأَلْتَ عَنْهَا خَبِيرًا سَأَلْتُ عَنْهَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ بَلْ ائْتَمِرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَتَنَاهَوْا عَنْ الْمُنْكَرِ حَتَّى إِذَا رَأَيْتَ شُحًّا مُطَاعًا وَهَوًى مُتَّبَعًا وَدُنْيَا مُؤْثَرَةً وَإِعْجَابَ كُلِّ ذِي رَأْيٍ بِرَأْيِهِ فَعَلَيْكَ يَعْنِي بِنَفْسِكَ وَدَعْ عَنْكَ الْعَوَامَّ فَإِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّامَ الصَّبْرِ الصَّبْرُ فِيهِ مِثْلُ قَبْضٍ عَلَى الْجَمْرِ لِلْعَامِلِ فِيهِمْ مِثْلُ أَجْرِ خَمْسِينَ رَجُلًا يَعْمَلُونَ مِثْلَ عَمَلِهِ* رواه ابو داود والترمذي

Abu Ummaiyah As-sya'bany mencritakan kepadaku, ia berkata, aku bertanya kepada Aba tsa'labah Al-khusyany, aku bertanya; "hai, Aba tsa'labah, apakah perkataanmu pada firman Allah ; " Jagalah diri kalian "(QS. Al-Maaidah : 105) , Aba tsa'labah menjawab;"Demi Allah, engkau telah bertanya kepada orang yang tepat, aku telah bertanya tentangnya kepada Rosulullah J , Nabi Berabda; " Bahkan hendaklah kalian saling beramar ma’ruf nahi munkar. Hingga kamu melihat sifat kikir yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dunia yang diutamakan, dan setiap orang yang bangga/takjub dengan pendapatnya sendiri; maka jagalah dirimu sendiri dan tinggalkanlah masyarakat awam. Sesungguhnya di belakangmu nanti akan ada hari-hari penuh kesabaran. Sabar pada hari itu seperti halnya memegang bara api. Orang yang beramal pada waktu itu akan diberi pahala seperti pahala lima puluh orang lain yang beramal seperti amalnya”.

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam Khalqu Af’alil-‘Ibaad no. 155, Abu Dawud no. 4341, At-Tirmidzi no. 3058, Ibnu Majah no. 4014, Ath-Thabariy dalam Tafsir-nya 7/97, Ath-Thahawiy dalam Syarhul-Musykil no. 1171-1172, Ibnu Hibbaan no. 358, dan yang lainnya. Hadits ini dla’if, kecuali lafadh : “Sesungguhnya di belakangmu nanti akan ada hari-hari penuh kesabaran….” ; shahih. Lihat Dla’iif Ibni Majah hal. 326 no. 801, Silsilah Ash-Shahiihah 1/892-893 no. 494, dan Dla’if At-Tirmidzi hal. 320 no. 3058.

قال ا بن تيمية الحراني : أَلَا تَرَى أَنَّ الَّذِي يُعَظِّمُ نَفْسَهُ بِالْبَاطِلِ يُرِيدُ أَنْ يَنْصُرَ كُلَّ مَا قَالَهُ وَلَوْ كَانَ خَطَأً* مجموع الفتاوى

Ibnu Taimiyah berkata : Tidakkah kau ketahui sesungguhnya orang yang mengagungkan dirinya dengan kebatilan, ia menghendaki semua apa yang ia katakana walaupun hal itu salah * Majmu' Fatawa

Bahkan seandainya ia diqodar menempati kebenaran, lagi terang dengan kebenaran, maka hendaklah ia berhati-hati dengan sifat ujub. Karena sifat ujubnya tersebut dapat merusak ganjaran dari amal sholihnya.

قال الحافظ الذهبي رحمه الله : فكم من رجل نطق بالحق، وأمر بالمعروف، فيسلط الله عليه من يؤذيه لسوء قصده، وحبه للرئاسة الدينية، فهذا داء خفي سار في نفوس الفقهاء* سير أعلام النبلاء

Al-hafidz Ad-dzahaby berkata : Betapa banyak orang berbicara dengan benar, Dan memerintahkan kebaikan, kemudian Allah menguasakan pada orang lain yang menyakitinya dikarenakan jeleknya keinginannya serta kecintaannya pada kepemimpinan duniawiyah, maka ini Adalah penyakit yang tersembunyi, ia berjalan di hati para fuqoha/ahli ilmu * Siaru a'lami an-nubala

Dan sifat 'ujub akan menghalangi pemiliknya untuk meminta pertolongan kepada Tuhan-nya, karena kesombongan dirinya

وَالْعُجْبُ مِنْ بَابِ الْإِشْرَاكِ بِالنَّفْسِ وَهَذَا حَالُ الْمُسْتَكْبِرِ، فَالْمُرَائِي لَا يُحَقِّقُ قَوْلَهُ: {إيَّاكَ نَعْبُدُ} وَالْمُعْجَبُ لَا يُحَقِّقُ قَوْلَهُ: {إيَّاكَ نَسْتَعِينُ}

Dan sifat 'ujub merupakan bagian dari bab syirik nafs, dan ini keadaannya orang yang sombong, maka orang yang berpura-pura ini tidak merealisasikan firman Allah " Hanya kepada-Mu kami menyembah" dan adapun orang 'ujub tidak merealisasikan firman Allah " dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan"

(Sebagian besar tulisan ini menukil dari kitab As-Showarif 'anilhaq Karya Syaikh Hammad bin Ibrohim 'Utsman Halaman 35-38)



[1] Ini adalah bahasa yang ma'ruf dikalangan Jama'ah354

Selasa, 15 Desember 2009

THOLIBU AL-ILMI

TIDAK BERBICARA TANPA ILMU

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا (36) سورة الإسراء

Dan janganlah kamu berkata/berbuat pada apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.

قَالَ يَا نُوحُ إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ إِنَّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ فَلَا تَسْأَلْنِ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنِّي أَعِظُكَ أَنْ تَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ (46) سورة هود

Allah berfirman: "Hai Nuh, Sesungguhnya Dia bukanlah Termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), Sesungguhnya (perbuatan) nya perbuatan yang tidak baik. sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakekat) nya. Sesungguhnya aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan Termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan."

هَا أَنْتُمْ هَؤُلَاءِ حَاجَجْتُمْ فِيمَا لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ فَلِمَ تُحَاجُّونَ فِيمَا لَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ (66) سورة آل عمران

Beginilah kamu, kamu ini (sewajarnya) bantah membantah tentang hal yang kamu ketahui, Maka kenapa kamu bantah membantah tentang hal yang tidak kamu ketahui? Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.

Dalam ayat pertama, Allah memberikan arahan kepada Nabi-Nya dengan etika yang sangat agung. Yaitu, tidak boleh mengatakan sesuatu tanpa ilmu dan tidak memperdalamnya (tanpa ilmu).

Dalam ayat kedua, Allah melarang Nuh meminta sesuatu yang tidak ia ketahui.

Dalam ayat ketiga, Allah mengingkari ahli Kitab yang berargumentasi pada sesuatu yang tidak mereka ketahui. Hal itu dianggap sebagai kebodohan mereka. Kewajiban bagi orang yang tidak mengetahui adalah menahan diri untuk tidak bicara tentang hal itu secara dalam. Hendaklah ia tahu bahwa sikap seperti ini termasuk kebaikan dan bukan aib.

Para ulama salaf hingga sekarang menetapkan bahaya berbicara tanpa ilmu.

Berikut beberapa perkataan mereka :

كان ابن جماعة إذا سُئل عما لا يعلمه قال : لا أعلمه ، أو : لا أدري، فمن العلم أن تقول : لا أعلم ، وعن بعضهم : نصف العلم لا ادري .

Telah ada Ibnu Jama'ah Jika dia ditanya tentang apa yang tidak ia ketahui, maka ia berkata,'aku tidak tahu.' Termasuk ilmu adalah perkataan,'Aku tidak tahu,' sebagian mereka berkata, "Aku tidak tahu adalah setengah ilmu."

وقال ابن عباس: (إذا ترك العالم لا أعلم فقد أصيبت مقاتله)

Ibnu Abbas berkata, " Jika seorang alim meninggalkan kata " saya tidak tahu", maka ia telah tertimpa bencana'.

Hendaknya seorang alim mewariskan "tidak tahu" kepada murid-muridnya, karena banyaknya apa yang ia ucapkan".

Jawaban orang yang ditanya "tidak tahu' sama sekali tidak merendahkan kedudukannya. Tidak seperti diperkirakan oleh sebagian orang bodoh. Bahkan hal itu mengangkat derajatnya. Karena itu, adalah bukti akan keagungan kedudukannya, kekuatan agamanya, ketakwaannya kepada Rabb-nya, kesucian hatinya, kesempurnaan pengetahuannya dan keteguhannya yang baik.

Diriwayatkan dari kaum salaf, orang yang enggan mengatakan "tidak tahu" hanyalah orang yang lemah agamanya dan sedikit wawasannya. Karena dia takut jika harga dirinya jatuh di hadapan orang yang hadir. Ini adalah kebodohan dan ketipisan agama. Bahkan kesalahannya itu tersebar ditengah masyarakat. Maka ia pun terjatuh ke dalam jurang yang sebelumnya ia jauhi. Ia akan mendapatkan label buruk yang selalu ia hindari.

Allah Ta'ala telah memberikan arahan kepada para ulama melalui kisah Musa 'alaihi as-salam bersama khidhir 'alaihi as-salam, ketika Musa tidak mengembalikan ilmu kepada Allah ketika ia ditanya :"Apakah di bumi ini ada seseorang yang lebih 'alim dari anda?"

وقال الشيخ السعدى رحمه الله تعالى: من أعظم ما يجب على المعلمين أن يقولوا لما لا يعلمونه : الله أعلم وليس هذا بناقص لأقدارهم بل مما يزيد قدرهم ويستدل به على كمال دينهم وتحريهم للصواب

Syaikh as-Sa'di Rohimahullah berkata, "Di antara kewajiban paling besar pada para guru adalah mengatakan: 'Allah lebih mengetahui terhadap apa-apa yang tidak ia ketahui.' Ini sama sekali tidak mengurangi kedudukan mereka, bahkan mengangkat derajat mereka. Ia juga merupakan dalil akan kesempurnaan agama dan usaha mereka untuk mencari kebenaran.

Ada banyak pelajaran dalam sikap diam terhadap sesuatu yang tidak diketahui:

  • Inilah kewajiban yang harus dilakukan.
  • Jika dia tak berkomentar dan mengatakan "Hanya Allah yang lebih tahu," maka secepat mungkin ia akan mendapatkan ilmu tersebut dengan menelaah atau penelitian yang dilakukan oleh orang lain. Karena ketika seorang murid melihat gurunya tidak menjawab, maka ia akan berusaha keras untuk menghadiahkan hal itu pada sang guru. Sungguh indah!
  • Jika ia diam terhadap apa-apa yang tidak diketahui maka hal itu merupakan dalil bahwa dia terpercaya dan keteguhannya terhadap masalah-masalah yang ia yakini. Orang yang dikenal berani berbicara terhadap apa-apa yang tidak diketahui, maka hal itu merupakan faktor yang menyebabkan keraguan terhadap apa yang ia katakan, walaupun dalam masalah yang sudah jelas.
  • Ketika para pelajar melihat seorang guru diam terhadap apa yang tidak ia ketahui maka hal itu merupakan pengajaran dan arahan akan jalan baik ini. Mengambil teladan dengan ucapan dan amalan lebih utama daripada berteladan hanya dengan ucapan.

قال الامام ابن مفلح رحمه الله تعالى : فصل في قول العالم لا أدري واتقاء التهجم على الفتوى

Ibnu muflih Rohimahullah berkata, "Pasal tentang perkataan seorang alim "tidak Tahu" dan menjaga (diri) dari berani dalam berfatwa."

قال ابن عباس رضي الله عنهما: إذا ترك العالم لا أدري أصيبت مقاتله وكذا قال علي بن حسين

Ibnu Abbas Rodhiallahu 'anhuma berkata; "Jika seorang alim meninggalkan (kalimat) "tidak tahu" maka dia telah tertimpa bencana." Demikian pula dikatakan oleh Ali bin Hasan.

وقال مالك كان يقال إذا أغفل العالم لا أدري أصيبت مقاتله وقال أيضا كان رسول الله j إمام المسلمين وسيد العالمين يسأل عن الشيء فلا يجيب حتى يأتيه الوحي من السماء

Malik berkata, "Pernah dikatakan: Jika seorang alim lupa (mengatakan) "tidak tahu" maka bencana telah menimpanya."

Ia juga berkata, "Rasulullah j sebagai imam kaum Muslimin dan pemimpin bagi semua alam pernah ditanya tentang sesuatu. Lalu beliau tidak menjawab sehingga datang kepadanya wahyu dari langit."

وقال الشعبي لا أدري نِصْفُ العلم

As-Sya'bi berkata, "(Ucapan) Tidak tahu adalah setengah ilmu."

وصح عن ابن عمر رضي الله عنهما قال : العلم ثلاثة كتاب ناطق ، وسنة ماضية ، ولا أدري

Diriwayatkan dengan shahih dari Ibnu Umar Rodhiallahu 'anhu : "Ilmu itu ada tiga: kitab yang berbicara, sunah yang telah lalu dan (ucapan) tidak tahu.

وبإسناد حسن عن علي بن أبي طالب رضي الله عنه قال من علم الرجل أن يقول لما لا يعلم " الله أعلم " لأن الله عز وجل قال لرسوله عليه الصلاة والسلام : قُلْ مَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُتَكَلِّفِينَ (86) ص

Dengan sanad hasan, Ali bin Abi thalib Rodhiallahu 'anhu berkata, "Di antara keilmuan seseorang bahwa dia menagtakan " hanya Allah yang Maha tau" terhadap apa yang tidak ia ketahui. Karena sesungguhnya Allah Ta'ala berfirman kepada Rasul-Nya : "Katakanlah (hai Muhammad): "Aku tidak meminta upah sedikitpun padamu atas da'wahku dan bukanlah aku Termasuk orang-orang yang mengada-adakan".

وقال أحمد في رواية المروذي ليس كل شيء ينبغي أن يتكلم فيه وذكر أحاديث النبي صلى الله عليه وسلم { كان يسأل فيقول : لا أدري حتى أسأل جبريل }

Ahmad berkata dalam riwayat al-Marwazi, " tidak segala hal harus dibicarakan." Lalu ia menuturkan beberapa hadits dari Nabi j Beliau pernah ditanya lalu berkata, "Aku tidak tahu sehingga aku bertanya kepada Jibril."

وقال سفيان لقد كان الرجل يستفتى فيفتي وهو يرعد وقال سفيان من فتنة الرجل إذا كان فقيها أن يكون الكلام أحب إليه من السكوت

Sufyan berkata, "Di antara cobaan seseorang ketika dia sebagai seorang ahli fiqih, bahwa berbicara lebih ia sukai daripada diam."

وقال المروذي لأبي عبد الله إن العالم يظنونه عنده علم كل شيء فقال قال ابن مسعود رضي الله عنه : إن الذي يفتي الناس في كل ما يستفتونه لمجنون

Al-Marwazi berkata, "Aku berkata kepada Abu abdillah: "seorang alim dengan persangkaannya saja, segala sesuatu menjadi ilmu!' Lalu ia berkata, Ibnu Mas'ud... berkata, "Sesungguhnya yang memberikan fatwa kepada orang lain atas segala hal yang ditanyakan kepadanya adalah orang gila."

وعن علي أيضا خمس لو سافر الرجل فيهن إلى اليمن لكن عوضا من سفره : لا يخشى عبد إلا ربه ، ولا يخاف إلا ذنبه ، ولا يستحي من لا يعلم أن يتعلم ، ولا يستحي من تعلم إذا سئل عما لا يعلم أن يقول الله أعلم ، والصبر من الدين بمنزلة الرأس من الجسد وإذا قطع الرأس توى الجسد

Ali bin Abi Thalib Rodhiallahu 'anhu berkata, "Ada lima hal, seandainya seseorang melakukan dengannya ke Yaman, niscaya semua itu menjadi pengganti atas perjalanannya :

  1. tidak takutnya seorang hamba kecuali kepada Rabb-nya
  2. Tidak merasakan bahaya kecuali atas dosanya.
  3. Orang yang tidak tahu tidak merasa malu belajar.
  4. Orang yang belajar tidak merasa malu mengatakan "Hanya allah yang mengetahui", ketika ditanya tentang sesuatu yang tidak ia ketahui.
  5. Kedudukan sabar dalam agama bagaikan kepala bagi jasad. Jika kepala terputus maka badan pun hancur."

وقال القاسم وابن سيرين لأن يموت الرجل جاهلا خير له من أن يقول ما لا يعلم

Al-Qasim dan Ibnu sirin berkata, " Seseorang yang mati dalam keadaan bodoh itu lebih baik daripada mengatakan sesuatu yang tidak ia ketahui."

وقال سعيد بن جبير ويل لمن يقول لما لا يعلم إني أعلم

Said bin Zubair berkata, " Celakalah bagi seseorang yang mengatakan "saya tahu" atas pa yang tidak ia ketahui."

قَالَ مَالِكٌ : مِنْ فِقْهِ الْعَالِمِ أَنْ يَقُولَ : لَا أَعْلَمُ فَإِنَّهُ عَسَى أَنْ يُهَيَّأَ لَهُ الْخَيْرُ .[1]

Malik berkata, " Di antara kefaqihan seorang alim adalah dia berkata, "Aku tidak tahu". Semoga kebaikan telah dipersiapkan baginya."

قاله الغزالي : لو سكت من لا يعرف قل الاختلاف ، ومن قصر باعه وضاق نظره عن كلام علماء الأمة والاطلاع عليه فما له وللتكلم فيما لا يدريه والدخول فيما لا يعنيه ، وحق مثل هذا أن يلزم السكوت[2]

Al-Ghazali berkata, "Seandainya dia diam terhadap apa yang tidak ia ketahui, niscaya akan sedikit perbedaan pendapat. Barang siapa pendek kemampuannya dan sempit pandangannya dari berbagai perkataan para ulama umat dan penelaahannya, maka ia sama sekali tidak berhak untuk berkata dalam hal yang tidak ia ketahui dan berkecimpung dalam hal yang tidak bermanfaat baginya. Orang yang seperti ini mestinya diam.

قَالَ مَالِكٌ : وينبغي للمرء أن لا يتكلم إلا فيما أحاط به خبرا [3]

Malik berkata, " Semestinya seseorang itu tidak berbicara kecuali dalam hal yang ia pahami.

وقال السيوطى رحمه الله تعالى :....ردّ الجواب على من علمه الله فرض كما قال الله لآدم :( أَنْبِئْهُمْ بِأَسْمَائِهِمْ)البقرة 33 ,والسؤال على من لم يعلم فرض قال الله تعالى : فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ (43) النحل *[4]

As-Suyuthi Rohimahullah berkata, "....Menjawab sesuatu yang ia ketahui adalah wajib hukumnya, sebagaimana firman Allah Ta'ala kepada Adam: "Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka Nama-nama benda ini."

Demikian pula, bertanya terhadap apa yang tidak diketahui hukumnya wajib. Allah Ta'ala Berfirman ; "Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui".

وعن ابن عمر انه سأله أعرابي: أترث العمة ؟، فقال لا أدري . قال أنت لا تدري قال نعم . اذهب إلى العلماء فاسألهم

Diriwayatkan dari Ibnu Umar, ia ditanya oleh seorang Badui, apakah seorang bibi mendapatkan waris? " Dia menjawab, "Tidak tahu." Orang itu bertanya kembali, "Kamu tidak tahu?!" Ia Menjawab, "ya. Pergilah kepada para ulama dan tanyalah pada mereka".

وسأل رجل عمرو بن دينار عن مسألة فلم يجبه فقال الرجل : إن في نفسي منها شيئا فأجبني فقال إن يكن في نفسك منها مثل أبي قبيس أحب إلي أن يكون في نفسي منها مثل الشعرة

Seorang laki-laki bertanya kepada amir bin dinar tentang suatu masalah, lalu ia tidak menjawabnya. Orang itu berkata " sesungguhnya di dalam hati saya ada sedikit jawaban tentangnya". Lalu ia berkata" jika di dalam dirimu ada jawaban bagaikan gunung abu qubais, maka hal itu lebih aku sukai daripada yang di dalam diriku hanya bagaikan seuntai rambut".

وَقَالَ ابْنُ مَهْدِيٍّ سَأَلَ رَجُلٌ مَالِكَ بْنَ أَنَسٍ عَنْ مَسْأَلَةٍ فَطَالَ تَرْدَادُهُ إلَيْهِ فِيهَا وَأَلَحَّ عَلَيْهِ فَقَالَ مَا شَاءَ اللَّهُ يَا هَذَا إنِّي لَمْ أَتَكَلَّمْ إلَّا فِيمَا أَحْتَسِبُ فِيهِ الْخَيْرَ وَلَسْتُ أُحْسِنُ مَسْأَلَتَكَ هَذِهِ.[5]

Ibnu Mahdi berkata" Seorang laki-laki bertanya kepada Malik bin Anas tentang sesuatu. Dia terus menerus datang dan mendesaknya. Lalu ia berkata" Masya Allah" aku tidak menjawab kecuali dalam hal yang menurutku ada kebaikan di dalamnya. Sekarang ini aku sama sekali tidak memahami dengan benar masalahmu.

Muhammad bin Abdil Hakim berkata, " Aku bertanya kepada Imam Syafi'I tentang nikah mut'ah, Apakah di dalamnya ada Talaq, pewarisan atau nafkah yang wajib atau persaksian?" Lalu ia menjawab, "Demi Allah aku tidak tahu".

وقال ابن عيينة كان أبو حصين إذا سئل عن مسألة قال ليس لي بها علم والله أعلم[6]

Ibnu Uyainah, " Dahulu Abu Al-husain jika ditanya tentang satu masalah, maka ia berkata, " Aku tidak memiliki ilmu tentang hal itu. Hanya Allah Yang Maha tahu.

وكنت أجالس البحر ابن عباس، وقد جلست مع أبي هريرة، وابن عمر فأكثرت.فكان هناك - يعني ابن عمر - ورع وعلم جم، ووقوف عما لا علم له به.[7]

Al-Qosim bin Muhammad berkata, " Aku pernah belajar kepada al-Bahr ibn Abbas, aku pernah belajar bersama abu hurairoh dan ibnu umar, lau banyak (menimba ilmu darinya). Di sana ada ( pada diri Ibnu Umar ) kewara'an, ilmu yang banyak dan sikap diam atas segala hal yang tidak diketahui.

نقلا من : معالم في طريق طلب العلم ص 205-211

لفضيلة الشيخ : عبد العزيز السدحان



[1] الآداب الشرعية

[2] الحاوي للفتاوي 2/116

[3] نظام الحكومة النبوية المسمى التراتيب الإدراية الشيخ عبد الحي الكتاني

[4] الحاوي للفتاوي في الفقه وعلوم التفسير والحديث والأصول والنحو والإعراب وسائر الفنون 1/284-285

[5] الآداب الشرعية

[6] تهذيب التهذيب 7/127

[7] سير أعلام النبلاء 5/55