Tampilkan postingan dengan label SIROH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SIROH. Tampilkan semua postingan

BOHONG ITU HINA BAGI MASYARAKAT JAHILIYAH (DIALOG HERACLIUS DAN ABU SUFYAN)

Sabtu, 25 April 2015

Di masa jahiliyah bohong atau dusta adalah sifat yang hina. Mereka benar-benar memandang dusta sebagai sifat rendahan. Islam hadir di lisan masyarakat yang jujur ini sehingga syahadat bisa terwakili dengan zhahir ucapan lisan. Ketika lisan mereka telah berucap itu berarti isi hati dan perbuatan pun sama.

Berikut ini sebuah kisah dimana orang-orang Arab jahiliyah menganggap dusta adalah aib yang tercela dan memalukan. Orang-orang akan mengingatnya dalam waktu yang panjang. Dan dicap sebagai pembohong. Apalagi kalau yang berdusta adalah seorang tokoh. Kisah ini sekaligus menguatkan hikmah mengapa Nabi Muhammad ﷺ diutus di Arab.

Dari Abdullah bin Abbas:

Setelah Caisar Heraclius (Raja Romawi) membaca surat Rasulullah ﷺ yang ditujukan kepadanya, ia berkata, “Hadapkan kepadaku salah seorang dari kaum orang yang mengaku Nabi ini. Aku ingin bertanya tentang dia”.

Abdullah bin Abbas melanjutkan:

Abu Sufyan bercerita kepadaku bahwa ia dan orang-orang Quraisy berada di Syam untuk berdagang. Saat itu Rasulullah ﷺ dan orang-orang Quraisy masih sedang mengikat perjanjian damai. Lalu datanglah utusan Caisar. Kami pun diundang bertemu raja. Kami masuk menemui Caisar. Caisar duduk di singgasananya dengan mengenakan mahkota. Dan di sekelilingnya terdapat tokoh-tokoh Kerajaan Romawi.

Caisar Heraclius berkata kepada penerjemahnya, “Tanyakan pada mereka, siapa yang paling dekat kekerabatannya dengan laki-laki yang mengaku Nabi itu!”

Abu Sufyan berkata, “Akulah orang yang paling dekat hubungan nasab dengannya”.

Ia bertanya, “Seberapa dekat nasabmu dengannya?”

“Dia adalah anak pamanku”, jawab Abu Sufyan. “Tidak ada pada rombongan ini seorang pun dari bani Abdi Manaf kecuali aku”. Kisahnya.

Caisar berkata, “Mendekatlah”. Lalu ia memerintahkan rombonganku berada di belakangku. Lalu ia berkata kepada penerjemahnya, “Katakan kepada teman-temannya, aku akan menanyai dia tentang laki-laki yang mengaku nabi itu. Apabila ia bohong, maka katakan ia berbohong”.

Abu Sufyan berkata, “Demi Allah, kalau bukan karena malu dicap sebagai pendusta, pasti aku akan berbohong saat ia bertanya tentang nabi itu. Tapi aku malu kebohonganku ini akan diingat, jadi kukatakan yang sebenarnya”.

Kemudian Caisar berkata kepada penerjemahnya, “Bagaimana nasab laki-laki itu di kalangan kalian?” “Ia adalah seorang yang memiliki nasab terhormat”, jawabku.

“Apakah ada di antara kalian orang yang mengatakan kenabian ini sebelum dia?” tanyanya lagi. “Tidak ada”, jawabku.

“Apakah kalian pernah menuduhnya berdusta sebelum ia mengaku Nabi?” “Tidak”, jawabku.

“Apakah ada dari ayah dan kakek-kakenya seorang raja?” “Tidak ada”, jawabku.

“Apakah pengikutnya orang-orang terhormat di kaumnya ataukah orang-orang yang lemah?” “Pengikutnya adalah orang-orang lemah”, jawabku. “Terus bertambah atau berkurang?” tanyanya lagi. “Terus bertambah”, jawabku.

“Apakah ada yang murtad (keluar) dari agamanya setelah mereka memeluknya?” “Tidak ada”, jawabku.

“Apakah dia pernah berkhianat?” tanyanya. “Tidak. Dan kami sekarang sedang berada dalam masa perjanjian damai dengannya, kami tidak tahu apa yang akan dia perbuat”. Abu Sufyan bergumam, “Demi Allah, aku tidak dapat menyelipkan kata lain dalam jawaban selain ucapan di atas”.

“Apakah ia memerangi kalian dan kalian memeranginya?” “Iya”, jawabku. “Bagaimana perang kalian?” tanyanya lebih lanjut. “Perang antara kami dengannya silih berganti. Terkadang dia mengalahkan kami dan terkadang kami mengalahkannya”, jawab Abu Sufyan.

“Apa yang diperintahkannya kepada kalian?” Abu Sufyan menjawab, “Ia memerintahkan kami agar menyembah Allah saja dan tidak menyekutukannya dengan sesuatu apapun. Melarang menyembah Tuhan-Tuhan nenek moyang kami. Memerintahkan shalat, sedekah, menjaga kehormatan diri, memenuhi janji, dan menunaikan amanah”.

Setelah itu, Caisar berkata kepada penerjemahnya:

Katakan padanya! Aku bertanya kepadamu tentang nasabnya dan engkau menjawab ia memiliki nasab terhormat. Demikianlah para rasul. Mereka adalah orang-orang yang memiliki nasab terhormat.

Aku juga bertanya kepadamu, apakah ada sebelum dia orang yang mengatakan demikian (mengaku nabi). Engkau jawab tidak ada. Kalau ada seseorang yang mengaku sebagai nabi sebelum dia. Maka menurutku dia hanya ikut-ikutan saja.

Aku bertanya kepadamu apakah kalian pernah menuduhnya berdusta sebelum ia mengaku nabi. Engkau jawab tidak pernah. Maka aku bisa tahu, tidak mungkin orang yang tidak berdusta atas nama manusia akan berdusta atas nama Allah.

Aku bertanya kepadamu apakah ada nenek moyangnya yang pernah menjadi raja. Engkau jawab tidak ada. Jika seandainya ada nenek moyangnya yang pernah jadi raja. Maka ia adalah orang yang menginginkan kerajaan nenek moyangnya (kemabli ke tangannya).

Aku bertanya kepadamu apakah pengikutnya orang-orang terhormat atau orang-orang lemah. Engkau jawab pengikutnya adalah orang-orang lemah. Demikian itulah pengikut para rasul.

Aku bertanya kepadamu apakah pengikutnya itu terus bertambah atau berkurang. Engkau jawab terus bertambah. Demikianlah keimanan sehingga ia bisa sempurna.

Aku bertanya kepadamu apakah ada yang murtad salah seorang pengikutnya setelah memeluk agamanya. Engkau jawab tidak ada. Memang demikianlah keimanan ketika cahayanya telah menyentuh hati. Tidak seorang pun membencinya.

Aku bertanya kepadamu apakah ia pernah berkhianat. Engkau jawab tidak pernah. Memang para rasul tidak akan berkhianat.

Aku bertanya kepadamu tentang ia memerangi kalian dan kalian memeranginya. Engkau jawab demikianlah keadaannya. Peperangan antara kalian dengannya kadang dia yang menang dan kadang kalian yang menang. Begitulah para rasul. Mereka senantiasa diuji. Namun pada akhirnya merekalah yang akan menang.

Aku bertanya apa yang ia serukan. Engkau katakan ia memerintahkan agar menyembah Allah saja dan tidak menyekutukannya dengan sesuatu apapun. Melarang menyembah Tuhan-Tuhan nenek moyang kalian. Memerintahkan shalat, sedekah, menjaga kehormatan diri, memenuhi janji, dan menunaikan amanah. Inilah sifat seorang nabi. Aku telah mengetahui bahwa ia akan diutus. Hanya saja aku tidak menyangka dari bangsa kalian.

Jika apa yang engkau katakan benar , maka ia menguasai tempat kedua kakiku berpijak ini. Dan seandainya aku tahu bahawa aku akan setia kepadanya, niscaya aku pasti akan senang bertemu dengannya. Kalau aku berada di sisinya, pasti akan aku cuci kedua kakinya.

Abu Sufyan melanjutkan kisahnya: Kemudian ia meminta untuk dibawakan surat Rasulullah ﷺ. Kemudian dibacakan. Ternyata di dalamnya bersikan:

Bismillahirrahmanirrahim..

Dari Muhammad, hamba Allah dan Rasul-Nya kepada Heraclius pembesar Romawi. Keselamatan bagi mereka yang mengikuti petunjuk. Amma ba’du..

Sungguh aku mengajakmu dengan dakwah Islam. Masuk Islam lah pasti engkau selamat. Islam lah, Allah akan memberimu pahala dua kali lipat. Jika engkau menolak, maka engkau akan menanggung dosa-dosa rakyatmu.

“Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah”. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. (QS. Ali Imran | Ayat: 64).

Abu Sufyan kembali melanjutkan: Setelah ia selesai membacanya, terdengar suara-suara meninggi dan rebut dari tokoh-tokoh kerajaan yang ada di sekitarnya. Dan mereka semakin rebut. Aku tidak tahu apa yang mereka katakan. Kemudian ia memerintahkan kami untuk meninggalkan ruangan.

Ketika aku dan teman-temaku keluar, aku berkata kepada mereka, “Ajaran Ibnu Abu Kabasyah benar-benar telah tersebar. Raja bani al-Ashfar pun takut kepadanya… …Demi Allah aku masih terus merasa yakin dengan ajaran Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bahawa ia akan tersiar luas sehingga Allah berkenan memasukkan ajaran Islam itu ke dalam hatiku”.

(al-Anwar fi Syama-il an-Nabi al-Mukhtar, Bab Alamat Nubuwatihi ﷺ, Hadits No:36)

Pelajaran:

Meskipun membenci Nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wasallam, orang-orang Quraisy tidak bersekongkol untuk berbohong dan membiarkan Abu Sufyan berbicara semaunya.
Ketahuan berbohong akan menjatuhkan harga diri dan kredibilitas seseorang di tengah masyarakat jahiliyah. Karena itu Abu Sufyan menahan diri dari berbohong walaupun ia sangat ingin bercerita bohong.
Di masa kemudian, tradisi kejujuran bangsa Arab memudahkan dan sangat membantu dalam periwayatan hadits Nabi shalallahu 'alaihi wasallam.
Keluarga para nabi adalah keluarga terhormat.
Tidak tepat menilai kebenaran dengan keadaan pengikutnya. Banyak orang-orang lemah dan miskin yang berada dalam ketaatan dan ajaran Nabi bukan berarti hal itu keliru. Sebagaimana orang-orang liberal dan sekuler sering menjadikan kemajuan Eropa sebagai alasan untuk meninggalkan ajaran Islam yang hakiki. Karena menurut mereka ajaran ini tidak benar dan sudah tidak cocok lagi dengan zaman.
Umat Islam jumlahnya senantiasa bertambah.
Nabi Isa juga menyerukan kalimat laa ilaaha illallah. Karena itu Nabi mengutip surat Ali Imran ayat 64 untuk mendakwahi Romawi yang Nasrani.

Oleh Nurfitiri Hadi (@nfhadi07)
Artikel www.KisahMuslim.com

REKAMAN SANGAT LANGKA TILAWAH AL-QUR'AN SYAIKH ABDU ADH-DHOHIR ABU AS-SAMAH

Kamis, 23 April 2015

تلاوة نادرة جدا للشيخ عبدالظاهر ابو السمح رحمة الله من أئمة الحرم المكي في عهد الملك عبدالعزيز رحمة 

SAAD BIN ABI WAQQASH PEMILIK DOA MUSTAJAB

Rabu, 22 April 2015

Saad bin Abi Waqqash adalah salah seorang sahabat yang paling pertama memeluk Islam. Hanya beberapa orang sahabat saja yang mendahuluinya. Abu Bakar ash-Shiddiq, Ali bin Abi Thalib, dan Zaid bin Haritsah radhiallahu ‘anhu ajma’in merekala orangnya. Laki-laki Quraisy ini mengucapkan dua kalimat syahadat ketika berusia 27 tahun. Di masa kemudian, ia menjadi tokoh utama di kalangan sahabat. Dan termasuk 10 orang yang diberi kabar gembira sebagai penghuni surga.
Nasab Saad bin Abi Waqqash
Merupakan bagian penting dalam rekam jejak seseorang adalah nasab keluarga. Keluarga memiliki peran penting dalam pembentukan karakter seseorang. Ayah Saad adalah anak dari seorang pembesar bani Zuhrah. Namanya Malik bin Wuhaib bin Abdi Manaf bin Zuhrah bin Kilab bin Murah bin Ka’ab bin Luay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin Nadhar bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Amir bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’d bin Adnan.
Adnan adalah putra Nabi Ismail bin Ibrahim ‘alaihimassalam.
Malik, ayah Saad, adalah anak paman Aminah binti Wahab, ibu Rasulullah ﷺ. Malik juga merupakan paman dari Hamzah bin Abdul Muthalib dan Shafiyyah binti Abdul Muthalib. Sehingga nasab Saad termasuk nasab yang terhormat dan mulia. Dan memiliki hubungan kekerabatan dengan Nabi ﷺ.
Ibunya adalah Hamnah binti Sufyan bin Umayyah al-Akbar bin Abdu asy-Syams bin Abdu Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murah bin Ka’ab bin Luay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin Nadhar bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Amir bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’d bin Adnan.
Ketika Rasulullah ﷺ sedang duduk-duduk bersama para sahabatnya, beliau memuji dan mencandai Saad dengan mengatakan,
هَذَا خَالِي فَلْيُرِنِي امْرُؤٌ خَالَهُ
“Ini pamanku, maka hendaklah seseorang memperlihatkan pamannya kepadaku.” (HR. al-Hakim 6113 dan at-Tirmidzi 3752. At-Tirmidzi mengatakan hadist ini hasan).
Masa Pertumbuhan
Saad dilahirkan di Mekah, 23 tahun sebelum hijrah. Ia tumbuh dan terdidik di lingkungan Quraisy. Bergaul bersama para pemuda Quraisy dan pemimpin-pemimpin Arab. Sejak kecil, Saad gemar memanah dan membuat busur panah sendiri. Kedatangan jamaah haji ke Mekah menambah khazanah pengetahuannya tentang dunia luar. Dari mereka ia mengenal bahwa dunia itu tidak sama dan seragam. Sebagaimana samanya warna pasir gurun dan gunung-gunung batu. Banyak kepentingan dan tujuan yang mengisi kehidupan manusia.
Memeluk Islam
Mengenal Islam sejak lahir adalah sebuah karunia yang besar. Karena hidayah yang mahal harganya itu, Allah beri tanpa kita minta. Berbeda bagi mereka yang mengenal Islam di tengah jalannya usia. Keadaan ini tentu lebih sulit. Banyak batu sandungan dan pemikiran yang membingungkan.
Saad bin Waqqash memeluk Islam saat berusia 27 tahun. Ia menyaksikan masa jahiliyah. Abu Bakar ash-Shiddiq berperan besar mengenalkannya kepada agama tauhid ini. Ia menyatakan keislamannya bersama orang yang didakwahi Abu Bakar: Utsman bin Affan, Zubair bin al-Awwam, Abdurrahman bin Auf, dan Thalhah bin Ubaidillah. Hanya tiga orang yang mendahului keislaman mereka.
Dipaksa Meninggalkan Islam
Ketika Saad bin Abi Waqqash memeluk Islam, menerima risalah kerasulan Muhammad ﷺ, dan meninggalkan agama nenek moyangnya, ibunya sangat menentangnya. Sang ibu ingin agar putranya kembali satu keyakinan bersamanya. Menyembah berhala dan melestarikan ajaran leluhur.
Ibunya mulai mogok makan dan minum untuk menarik simpati putranya yang sangat menyayanginya. Ia baru akan makan dan minum kalau Saad meninggalkan agama baru tersebut.
Setelah beberapa lama, kondisi ibu Saad terlihat mengkhawatirkan. Keluarganya pun memanggil Saad dan memperlihatkan keadaan ibunya yang sekarat. Pertemuan ini seolah-olah hari perpisahan jelang kematian. Keluarganya berharap Saad iba kepada ibunda.
Saad menyaksikan kondisi ibunya yang begitu menderita. Namun keimanannya kepada Allah dan Rasul-Nya berada di atas segalanya. Ia berkata, “Ibu… demi Allah, seandainya ibu mempunyai 100 nyawa. Lalu satu per satu nyawa itu binasa. Aku tidak akan meninggalkan agama ini sedikit pun. Makanlah wahai ibu.. jika ibu menginginkannya. Jika tidak, itu juga pilihan ibu”.
Ibunya pun menghentikan mogok makan dan minum. Ia sadar, kecintaan anaknya terhadap agamanya tidak akan berubah dengan aksi mogok yang ia lakukan. Berkaitan dengan persitiwa ini, Allah pun menurunkan sebuah ayat yang membenarkan sikap Saad bin Abi Waqqash.
وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS: Luqman | Ayat: 15).
Doanya Tidak Tertolak
Saad bin Abi Waqqash adalah seorang sahabat Rasulullah ﷺ yang memiliki doa yang manjur dan mustajab. Rasulullah ﷺ meminta kepada Allah ﷻ agar doa Saad menjadi doa yang mustajab tidak tertolak. Beliau ﷺ bersabda,
اللَّهُمَّ سَدِّدْ رَمَيْتَهُ، وَأَجِبْ دَعْوَتَهُ
“Ya Allah, tepatkan lemparan panahnya dan kabulkanlah doanya.” (HR. al-Hakim, 3/ 500).
Doa Rasulullah ﷺ ini menjadikan Saad seorang prajurit pemanah yang hebat dan ahli ibadah yang terkabul doanya.
Seorang Mujahid
Saad bin Abi Waqqash adalah orang pertama dalam Islam yang melemparkan anak panah di jalan Allah. Ia juga satu-satunya orang yang Rasulullah pernah menyebutkan kata “tebusan” untuknya. Seperti dalam sabda beliau ﷺ dalam Perang Uhud:
اِرْمِ سَعْدُ … فِدَاكَ أَبِيْ وَأُمِّيْ
“Panahlah, wahai Saad… Tebusanmu adalah ayah dan ibuku.”( HR. at-Tirmidzi, no. 3755).
Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu mengatakan, “Aku tidak pernah mendengar Rasulullah ﷺ menebus seseorang dengan ayah dan ibunya kecuali Saad. Sungguh dalam Perang Uhud aku mendengar Rasulullah mengatakan,
اِرْمِ سَعْدُ … فِدَاكَ أَبِيْ وَأُمِّيْ
“Panahlah, wahai Saad… Tebusanmu adalah ayah dan ibuku.”( HR. at-Tirmidzi, no. 3755).
Dan Saad sangat merasa terhormat dengan motivasi Rasulullah ﷺ ini.
Di antara keistimewaan lain, yang ada pada diri Saad bin Abi Waqqash termasuk seorang penunggang kuda yang paling berani di kalangan bangsa Arab dan di antara kaum muslimin. Ia memiliki dua senjata yang luar biasa; panah dan doa.
Peperangan besar yang pernah ia pimpin adalah Perang Qadisiyah. Sebuah perang legendaris antara bangsa Arab Islam melawan Majusi Persia. 3000 pasukan kaum muslimin beradapan dengan 100.000 lebih pasukan negara adidaya Persia bersenjata lengkap. Prajurit Persia dipimpin oleh palingma mereka yang bernama Rustum. Melaui Saad lah, Allah memberi kemanangan kepada kaum muslimin atas negara adidaya Persia.
Umar Mengakui Amanahnya Dalam Memimpin
Umar bin al-Khattab radhiallahu ‘anhu pernah mengamanahi Saad jabatan gubernur Irak. Sebuah wilayah besar dan penuh gejolak. Suatu ketika rakyat Irak mengadukannya kepada Umar. Mereka menuduh Saad bukanlah orang yang bagus dalam shalatnya. Permasalahan shalat bukanlah permsalahan yang ringan bagi orang-orang yang mengetahui kedudukannya. Sehingga Umar pun merespon laporan tersebut dengan memanggil Saad ke Madinah.
Mendengar laporan tersebut, Saad tertawa. Kemudian ia menanggapi tuduhan tersebut dengan mengatakan, “Demi Allah, sungguh aku shalat bersama mereka seperti shalatnya Rasulullah. Kupanjangkan dua rakaat awal dan mempersingkat dua rakaat terakhir”.
Mendengar klarifikasi dari Saad, Umar memintanya kembali ke Irak. Akan tetapi Saad menanggapinya dengan mengatakan, “Apakah engkau memerintahkanku kembali kepada kaum yang menuduhku tidak beres dalam shalat?” Saad lebih senang tinggal di Madinah dan Umar mengizinkannya.
Ketika Umar ditikam, sebelum wafat ia memerintahkan enam orang sahabat yang diridhai oleh Nabi ﷺ -salah satunya Saad- untuk bermusyawarah memilih khalifah penggantinya. Umar berkata, “Jika yang terpilih adalah Saad, maka dialah orangnya. Jika selainnya, hendaklah meminta tolong (dalam pemerintahannya) kepada Saad”.
Sikap Saad Saat Terjadi Perselisihan Antara Ali dan Muawiyah
Saad bin Abi Waqqash menjumpai perselisihan besar yang terjadi pada kaum muslimin. Antara Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah bin Abi Sufyan, radhiallahu ‘anhum ajma’in. Sikap Saad pada saat itu adalah tidak memihak kelompok manapun. Ia juga memerintahkan keluarga adan anak-anaknya untuk tidak mengabarkan berita apapun kepadanya.
Keponakannya, Hisyam bin Utbah bin Abi Waqqash, berkata kepadanya, “Wahai paman, ini adalah 100.000 pedang (pasukan) yang menganggap Andalah yang berhak menjadi khalifah”. Saad menjawab, “Aku ingin dari 100.000 pedang tersebut satu pedang saja. Jika aku memukul seorang mukmin dengan pedang itu, maka ia tidak membahayakan. Jika dipakai untuk memukul orang kafir (berjihad), maka ia mematikan”. Mendengar jawaban pamannya, Hisyam paham bahwa pamannya, Saad bin Abi Waqqash sama sekali tidak ingin ambil bagian dalam permasalahan ini. Ia pun pergi.
Wafat
Saad bin Abi Waqqash termasuk sahabat yang berumur panjang. Ia juga dianugerahi Allah ﷻ harta yang banyak. Namun ketika akhir hayatnya, ia mengenakan pakaian dari wol. Jenis kain yang dikenal murah kala itu. Ia berkata, “Kafani aku dengan kain ini, karena pakaian inilah yang aku pakai saat memerangi orang-orang musyrik di Perang Badar”.
Saad wafat pada tahun 55 H. Ia adalah kaum muhajirin yang paling akhir wafatnya. Semoga Allah meridhainya.
Sumber:
http://islamstory.com/ar/%D8%B3%D8%B9%D8%AF-%D8%A8%D9%86-%D8%A3%D8%A8%D9%8A-%D9%88%D9%82%D8%A7%D8%B5
Oleh Nurfitri Hadi (@nfhadi07)
Artikel www.KisahMuslim.com