SEPENGGAL KISAH YANG PENUH HIKMAH SULTHAN SULAIMAN AL-QANUNI (1566-1520)

Senin, 23 Juni 2014

Suatu ketika Pegawai istana menghabarinya untuk mengusai (menangani) semut-semut yang terdapat di pepohonan di istana topkapi , dan setelah berbincang dengan orang-orang berpengalaman, maka untuk membershkannya adalah dengan melumuri pepohonan dengan kapur ,
Tetapi merupakan kebiasaan dari sulthan adalah dia tidak akan melaksanakan suatu perkara sampai dia mendapatkan fatwa syaikhul islam ,
iapun pergi sendiri untuk menemui Syaikh abu sa’ud al afnadi tetapi ia tidak menemuinya di rumahnya, lalu ia menulis surat kepada syaikhul islam dalam bentuk sya’ir;


Bila seekor semut merayap di pohon….
maka apakah membunuhnya adalah perbuatan yang merusak?

Maka syaikhul islam membalas suratnya dengan syair;

Bila timbangan keadilan telah ditegakkan…….
maka semutpun akan mengambil haknya tanpa rasa malu

Dan inilah kebiasaan sulthan sulaiman, ia tidak akan melaksanakan suatu perkara tanpa fatwa dari syaikhul islam atau dari dewan ulama tinggi daulah utsmaniah

Sulthan sulaiman meninggal di medan pertempuran – ziktor- disaat menuju ke kota wina
Maka merekapun mengembalikan jasadnya ke Istanbul, dan disaat mengiringi jenazahnya mereka menjumpai wasiat sulthan yang isinya agar mereka memasukkan sebuah kotak kedalam kuburnya
Serta merta wasiat ini membingungkan para ulama dan mereka berprasangka buruk bahwa kotak itu berisi penuh dengan harta , maka mereka tidak mengizinkan kotak itu rusak dibawah tanah, maka mereka sepakat untuk membuka kotak tersebut, manun alangkah terkejutnya mereka makakala mereka menenui bahwa isi kotak tersebut penuh dengan dokumen catatan fatwa-fatwa mereka

Maka pergilah syaikh abu sa’ud sambil menangis seraya berkata ;

“ aku telah membantu membebaskanmu wahai sulaiman…..
tetapi langit mana yang akan menaungi kami….
dan bumi mana yang akan menampung kami …

bila kami adalah orang-orang yang salah dalam berfatwa????”